Senin, 27 Maret 2017

Segelas Kehangatan Ibu

Ibu adalah segalanya. Teman, musuh, orang yang paling peduli, kadang juga orang yang suka membuat kesal. Banyak hal yang bisa akur dan juga bisa bertolak belakang. Beliau bisa seketika membuat kita jengkel, namun seketika itu pula membuat hati kita lumer. Tapi apapun itu, kasih sayang ibu tiada batas.

Ibu... Oh Ibu... Ridha Tuhan juga menjadi restumu. Kasih sayang Tuhan termanifestasikan dalam kasih sayangmu. Pengorbananmu yang tiada batas dan tiada lelah hingga aku tumbuh bersamamu dan menua. Kau tetap tempatku kembali dan berteduh dari derasnya hujan derita. Tanganmu selalu terbuka seperti Tuhan yang selalu dapat menerima hambaNya yang berdosa kembali pulang.

Malam ini ibu suguhkan segelas perasan jeruk hangat. Meski bukan membuat sendiri tetapi membeli. Ibu tahu saat aku kembali, aku merasa tak enak badan. Kemungkinan besar karena salah memilih menu makanan. Pusing dan mual yang terasa, sirna oleh segelas jeruk hangat yang ibu siapkan.

Terima kasih ibu. Sebagai anak, aku selalu berharap dan berdoa semoga aku dapat membahagiakanmu kelak dan Tuhan juga memberikan hati yang bahagia selalu. Sebagai satu-satunya perisai ampuh untuk mengarungi derasnya kehidupan.

VB 28 Maret 2017

#ibu #mother #mom #mommy #umi #mama #bunda #mami #mimi #cintaibusepanjangmasa #madre

»»  READMORE...

Minggu, 23 November 2014

FILM INTERSTELLAR

1. Ketidaktahuan manusia, membawanya pada hal-hal yang abstrak dan misteri. Tapi keingintahuan manusia, dapat mentransformasikan yang abstrak menjadi konkret.  Merubah misteri menjadi hal yang pasti.

2. Mungkin saja waktu bersifat relatif. Faktanya terjadi pembagian waktu berdasarkan letak geografis suatu wilayah. Maka, hari ini bisa menjadi masa lalu dan masa depan bagi manusia lainnya. Namun sebenarnya perbedaan dimensi ruang dan waktu yang ada, tidak menghambat manusia untuk saling berkomunikasi. Buktinya perbedaan wilayah, apakah itu berbeda daerah atau bahkan benua, masih bisa telpon meski jam, hari, tanggal, dan tempat berbeda. Berkat rasa ingin tahu manusia demi kemajuan hidupnya, mereka berupaya menciptakan teknologi sebagai alat pemecah misteri. Kemudian digunakan untuk mempermudah aktifitasnya, TAPI BUKAN UNTUK  MENGGANTIKAN FUNGSI DAN NILAI MANUSIA ITU SENDIRI. Sehingga manusia dapat melakukan aktifitas komunikasi dimanapun mereka berada. Saling bertukar informasi dengan masing-masing caranya.

3. Kalau begitu, hal tersebut juga berlaku tidak hanya bagi sesama manusia yang masih hidup. Tetapi juga bisa terjadi antara manusia yang hidup dengan yang sudah meninggal. Mereka hanya berada pada dimensi yang saling berbeda satu sama lain. Tapi masih tetap bisa berkomunikasi. Mungkin tak bisa dengan cara yang sama. Karena dimensinya terlalu jauh berbeda. Kalau sesama manusia yang hidup bisa melalui telpon atau lain sejenisnya, karena ada "kesamaan" yaitu unsur fisik yang masih bisa berfungsi. Namun berbeda dengan mereka yg hidup dan yg telah mati. Mungkin akan menggunakan cara komunikasi yang berbeda satu dengan lainnya. Sehingga dibutuhkan tingkat kepekaan yang tinggi untuk menyampaikan pesan dengan tepat, untuk saling memahami. Mungkin salah satu cara yang dipakai orang yang telah mati adalah dengan simbol, tanda, dan isyarat. Dan manusia yang masih hidup membacanya dengan sandi-sandi khusus untuk kemudian ditransformasikan dalam bentuk perkembangan teknologi. Ini pun bisa terjadi diantara manusia dengan Sang Pencipta.

4. Karena saya muslim, saya teringat waktu masih kecil ikut pengajian nenek-nenek bersama nenek saya. Katanya orang yang meninggal itu kalau di dalam kubur, hitungan waktunya berbeda dengan kita yang masih hidup. 1 hari disana, hitungannya sama dengan beberapa tahun di kehidupan manusia atau sebaliknya. Jadi tidak ada nanti nenek-nenek atau kakek-kakek di alam akhir, semua akan muda kembali. Atau orang yang pernah mati suri konon katanya awet muda. Ya itu tadi, point di atas. Mungkin perbedaan dimensi ruang dan waktu menyebabkan perbedaan bentuk fisik. Misal, kalau saya menembus dimensi lain yang jauh jaraknya, 1 hari saja saya pergi, hitungannya bisa puluhan tahunan di bumi. Jika semakin lama saya pergi maka semakin berlipat lamanya di bumi. Dan saat saya kembali ke bumi, saya masih muda tapi orang-orang yang saya temui kembali akan lebih tua karena fisik mereka mengikuti perputaran waktu dari dimensi dimana mereka berada.

Jadi... Waktu sangatlah relatif.
Dan bukan tidak mungkin, yang telah pergi dan berlalu akan kembali.

Karena waktu adalah kita. Maka pikiran dapat mengembalikan hal yang telah pergi, yang telah lewat, dan yang telah terlupakan.

Inilah point yang saya simpulkan sendiri dari film Interstellar. Dan entah mengapa, -ini subjektif sekali- mungkin lagi-lagi karena saya seorang pemeluk agama Islam, saya menemukan nilai-nilai ajaran islam di dalamnya yaitu berpikir, berkreasi, bernilai, berguna, dan terus berusaha untuk hidup yang lebih baik. Bukan hanya sekedar pasrah dan bergantung kepada rasa ketidaktahuan. Saya kira semua ajaran agama, mengajarkan demikian.

Maka, saya katakan ini adalah film yang bernilai religius dengan kemasan yang modern. Itu saya temukan dari film barat.

Lalu mengapa kita masih sibuk untuk hal-hal yang menguras tenaga namun tak berguna?

Vita Balqis - INTERSTELLAR
*curhat pagi-pagi.
Monday, 24 Nov 2014
10.46 am

»»  READMORE...

Minggu, 27 April 2014

Hair Multistylist vs Potong Rambut

Aku sedang berkeinginan besar untuk memangkas rambutku ini, dari Yang tadinya sepanjang pinggang menjadi sebahu. Kalau diingat-ingat hampir 6 tahun belakangan rambutku hitam+panjang. Ya gitu-gitu aja. Malah kalau diingat lebih jauh aku sudah berambut panjang sejak masih main congklak. Hingga menjumpai kebosanan pertama kali setelah berhenti dari pekerjaanku sebagai Sales Mobil Honda di pertengahan  tahun 2007. Blas... Tanpa pikir panjang pangkas pendek sekali+gonta-ganti warna rambut. Entah nama style rambutnya apa! Mirip potongan Maya Estianty sih, agak ngetril. Hahaha. Dan akhirnya rambut panjang kembali.

Nah sekarang berulang kembali. Mulai jenuh lagi dengan rambut panjang+hitam. Benar-benar tak pernah diubah. Memang ada perbedaan antara dulu dengan sekarang. Jika dulu aku tak perlu berpikir panjang  untuk memangkas rambut banyak atau sedikit dengan beragam bentuk dan warna, belakangan sebaliknya. Tidak lagi semudah dulu. Aku merasa sudah tidak berani lagi untuk uji coba segala bentuk rambut. Oh bukan-bukan! Tepatnya sudah bukan saatnya lagi melakukan eksperimen dengan rambutku. Usia kali ya? Ah padahal ini gejala buruk. Mungkin saja hidupku pun begitu. Mulai terperangkap di zona nyaman. Takut untuk keluar dan mencoba hal baru. Persis seperti penggalan kalimat dalam film Transcendence, "Manusia itu selalu takut dengan hal baru yang mereka tidak ketahui." Kira-kira begitulah kalimatnya. Kalau kata temanku -Mujib- Dalam konsep Ushul Islamnya,  disebutkan "al-Naasu a'daa-u maa jahilu" artinya manusia itu secara naluri akan menentang apa yang ia tidak ketahui. Apakah aku mulai menutup diri? Ah... urusan rambut saja, aku terlalu sensitif. Ya memang, aku super sensitif. Ciri psikologis seperti aku ini bisa jadi negatif namun juga tidak menutup kemungkinan menjadi positif. Tinggal bagaimana mengontrolnya.

Oke... Aku kembali lagi pada persoalan rambut. Kali ini aku melibatkan pihak lain. Pacar. Maaf bukan bermaksud pamer namun saat ini begitulah keadaannya. Semoga dapat dimaklumi jika masuk dalam cerita. Baiklah dilanjutkan lagi. Pacarku bukan orang yang egois, dia mendukung apapun yang terbaik. Jadi tak keberatan jika aku memotong rambutku. Malah sudah beberapa kesempatan dia mengajakku untuk potong rambut. Tapi sempat kutunda-tunda. Karena masih ragu besar. Wajahku bulat, akan terlihat bulat lagi jika pendek. Itu yang selalu teringat.

Sampai di satu sore, kemarin. Pacarku mulai gerah dengan keluhan jenuhku. Aku sering mengeluh bahwa ini terlalu panjang, bokongku sudah serambut! Upps... terbalik. Hahaha. Untuk apa rambut panjang, toh aku lebih sering mengodenya dan unyel-unyel. Mungkin karena sudah mengganggu. Akhirnya pacarku tak tega mendengar keluhku. Dia langsung mengajakku mencari salon yang masih buka. Oiya... sore dia datang ke rumah, lalu kami pergi dan setelah pergi itulah aku mengeluh seperti yang kuceritakan barusan. Itu dia kenapa tadi aku bilang cari salon yang masih buka. Kami pulang malam dan jam menunjukan pukul 10 malam. Di dekat rumah tak ada satu pun yang masih buka. Cancel!

Kami sampai di rumah akhirnya. Tiba-tiba aku baru ingat. Sore itu sebelum kami pergi, pacarku datang dan membawakan seperangkat alat hair multistylist -bukan seperangkat alat shalat ya! Hahaha- lengkap! Mulai dari catokan hingga 4 jenis alat curly. Nah loh! Aku rasa dia sempat lupa kalau aku mau gunting rambut. Aku pun saat menerimanya lupa kalau aku bakalan berambut pendek tak lama lagi. Jika nekat dan khilaf, hahaha. Untung salon semua sudah tutup malam kemarin. Jadi alat itu masih punya harapan untuk dipakai. Aku kira sampai cerita ini ditulis, pacarku belum menyadarinya. Kecuali jika dia sudah baca cerita ini. Hahaha....

Kami berdua pelupa! :)

peristiwa Jakarta 27 April 2014

»»  READMORE...

Rabu, 23 April 2014

Sahabat Satu Malam

Aku ingin berteriak tepat di telinga-Mu. Namun sungguh malu kulakukan. Urung dan padamkan hasratku itu. Aku yakin. Setiap malam Kau telah mendengar aku menjerit dalam benak dan batin. Aku ini bagian kecil dari Mu. Apa yang aku tahu, Kau juga pasti tahu. Dan begitu pula atas rasa. Kau dan aku adalah satu.

Alangkah tak tahu diri jika aku mengemis memanjatkan segala kepedihanku. Mengeluh, merengek bak seorang pecundang berbalut jubah suci di atas sajadah.

Aku pun tahu bahwa deritaku tak seberapa pedih. Seandainya aku dapat mendengar jerit derita mereka yang tuna wisma, mereka yang tak mengenal ibu-ayahnya, mereka yang tak tahu besok bisa makan atau tidak. Aku tentu tak pantas mengadu. Karena aku di titik aman tentang ini.

Namun Tuhan, kita bersama tahu bahwa hidup punya tingkatan. Di situlah persoalan bisa datang secara beragam. Deritaku-derita mereka berbeda. Mungkin aku terlalu abstrak. Bukan minum atau makan. Tetapi... Impian.

Sekali lagi aku ragu meneruskannya. Jika Kau tak berkenan, kita bisa hentikan rengekanku ini!

....

Baiklah, aku lanjutkan. Mungkin bentuk relasinya bisa kita ubah sementara. Bisakah Kau turun sejenak dari ketinggianMu yang melampaui segalanya? Agar aku tak sungkan. Kita menjadi sahabat satu malam. Ini terasa lebih dekat dan nyaman.

...

Sahabatku, aku merasa lebih mirip mayat hidup. Nyawaku menempel pada impian. Impian itu jelas kulihat tergesa-gesa berjalan mendekati gerbang selamat tinggal. Kini aku tak berhasrat, tak bersemangat. Bahkan mungkin sebentar lagi aku tak memiliki diriku. Hanya kehendak dan program orang lain yang kujalankan. Menjadi robot manusia atau manusia robot, entahlah!

Aku cemas. Bila semua datang semakin nyata, aku tak bisa lagi membedakan hidup dan mati. Tak mengenal kata manusiawi.

Sahabat! Aku merasa begitu sulit jalanku. Aku merasa begitu rumit. Aku merasa semua benar-benar terlambat. Kukira cukup luapanku. Dan kini, silakan Kau berbicara.

...

Baiklah. Aku malam ini memang sahabatmu, tetapi keinginanku masih sama layaknya Aku Tuhanmu. Aku tak akan berpanjang-panjang kata memberikan dengan mudah takdir baikmu. Meluruskan liku jalanmu. Membuka tangan dan memberikan kunci jawaban. Tak akan kulakukan. Kau tahu mengapa? Aku ingin kamu menjadi umat manusia yang cerdas, berproses, dan terus belajar. Sebagai sahabatpun, sama.

Kamu yang membuat keputusan tentang hidupmu, bukan aku. Tuhan hanya memberi batas pasti interval dari kelahiran hingga kematian. Itu pun kamu bisa mendahului batas yang diberikan jika kamu tak menjaga kesehatanmu atau bertindak konyol bunuh diri.

Sebenarnya... persoalanmu hanya satu, yaitu "merasa". Ini persoalan sederhana sekaligus rumit. Kamu mau memposisikan kata itu dimana? Dan sebagai apa?

"Merasa" dapat menjadi persoalan rumit ketika kamu menyandingkannya dengan padanan kata yang memberi ruh negatif. Ingat! Kata memiliki ruh, dia hidup di saat kita memberikan makna dan kesakralan padanya.

Dan sebaliknya, jika kamu mengawinkan kata "merasa" dengan padanan kata yang tepat pada konteksnya hingga menghasilkan makna dan ruh yang positif. Dia akan menyalakan spirit atau semangat dalam hidupmu.

Apapun yang datang, punya potesi menjadi apa saja, baik dan buruk. Kamulah yang bertugas bertanggung-jawab atas proses dan hasilnya. Kamu juga punya kuasa dan kendali atasnya. 

Pertempuran ini akan terus terjadi di benak dan hatimu. Hati dan akal sehatmulah yang berperan penting.  Bagaimana teknisnya untuk mengontrol, hanya kamu sendiri yang mengerti.

Perlu diingat, persoalan hidup itu selalu terkait bagaimana kesadaran kita akan sesuatu dan bagaimana kita dapat mengatur keseimbangan, terutama pada hati yang menciptakan keyakinan.

»»  READMORE...

Belum ada judul

Rinduku pada fajar di bawah  rintik-rintik hujan. Menjelma bak kabut yang turun menyelimuti bebukitan berwajah senja. Gelap. Pekat. Kian erat dekapnya mengikat. Hingga menjemput malam yang tak lagi memberi kuasa bersuara. Kelopak mata dan bunga tak mampu terbuka. Hanya rasa, satu-satunya yang bernyawa. Kudengar dia bicara. Kadang menerka, kadang meraba. Sekalipun dingin menembus kulit dan menusuk tulang. Rasa membaca rindu tetap riang berdendang. Mengikuti irama alam. Kupersilakan dia singgah bahkan menjadi tuan rumah. Tetapi untuk satu malam ini saja.

»»  READMORE...

Kamis, 17 April 2014

Titik dan Detik

Titik dan detik. Dua bagian  kecil yang berkolaborasi harmonis sepanjang hayat.

Titik terus tergores hingga membentuk garis riwayat hidupmu-hidupku.

Detik terus berjalan hingga membuat babak dalam sejarah berbingkai waktu.

Tiap satu titik menentukan warna  ceritamu (sedih, datar, dan bahagia).

Tiap satu detik menentukan arah dan masa (dulu, kini, dan nanti atau gagal, bertahan, dan berhasil) dalam hidupmu.

Titik dan detik. Saksi- saksi bagimu di awal dan akhir. Pada kehancuran dan kejayaan.

Titik dan detik. Kecil namun besar. Buatlah dengan tepat. Atau hidupmu sia-sia dan tersesat dalam kegelapan hati yang pekat. Neraka tak berujung.

»»  READMORE...

Senin, 07 April 2014

Demokrasi dan Kebebasan

Repot juga kalau semua orang dan golongan relatif mengartikan "apa itu demokrasi?" Namun yang jelas, golongan penguasa, para teroris, pencari berita, umat beragama baru atau sekte, dan masih banyak lainnya yang bermunculan. Mereka bisa naik ke permukaan, sesungguhnya berkat menikmati keran demokrasi yang sedang terbuka. Sekalipun golongan yang mengaku bahwa mereka anti demokrasi. Mereka termasuk pihak yang merasakan kucuran air demokrasi. Tanpa adanya sistem pemerintahan yang demokratis ini. Mereka tidak akan muncul. Misalnya pada mas orde baru, bagaimana pers menemukan kebebasannya? Kemudian golongan-golongan yang dianggap mengancam kestabilan tahta pemerintah yang otoriter pada saat itu. Entah berbentuk kumpulan umat beragama di luar agama resmi maupun teroris. Tak akan ada ampun. Pasti sudah dibunuh hingga ke akar-akarnya, anak-cucu mereka. Nyawa tak lagi berharga. Hak manusia yang paling asasi terampas, yaitu hidup dan kebebasan. Namun, lain dulu lain sekarang. Setelah kebebasan dirasakan oleh kita semua berkat demokrasi. Kita bablas tak terkendali. Kebebasan tak lagi mengenal batasannya. Tak lagi bisa melihat mana wilayah publik dan pribadi. Tak lagi bisa membendung kepentingan golongannya masing-masing. Kepentingan pribadi dan golongan di atas segalanya. Teroris juga tak mau kalah, semakin bebas menyebarkan ide dan ancamannya. Informasi dan berita mengalir membabi-buta, baik tayangan positif atau negatif. Pada akhirnya kebebasan semacam ini tak akan memberikan kita apa-apa sekalipun hak kebebasan yang asasi itu sendiri. Buktinya nyawa semakin banyak melayang. Kebebasan manusia yang satu dirampas oleh yang lainnya. Apakah ini akibat perilaku manusia yang tak merasakan pendidikan dari pemerintah secara merata sehingga jauh dari mengenal kesadaran akan makna kebebasan yang sebenarnya. Atau kita memang telah lupa "apa itu kebebasan?" Seperti ikan yang tak juga sadar dengan apa itu air, yang memberinya kemampuan untuk bertahan hidup. Padahal dia pernah terjebak di darat yang hampir membuatnya mati.
»»  READMORE...