Rinduku pada fajar di bawah rintik-rintik hujan. Menjelma bak kabut yang turun menyelimuti bebukitan berwajah senja. Gelap. Pekat. Kian erat dekapnya mengikat. Hingga menjemput malam yang tak lagi memberi kuasa bersuara. Kelopak mata dan bunga tak mampu terbuka. Hanya rasa, satu-satunya yang bernyawa. Kudengar dia bicara. Kadang menerka, kadang meraba. Sekalipun dingin menembus kulit dan menusuk tulang. Rasa membaca rindu tetap riang berdendang. Mengikuti irama alam. Kupersilakan dia singgah bahkan menjadi tuan rumah. Tetapi untuk satu malam ini saja.
Rabu, 23 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar