1. Ketidaktahuan manusia, membawanya pada hal-hal yang abstrak dan misteri. Tapi keingintahuan manusia, dapat mentransformasikan yang abstrak menjadi konkret. Merubah misteri menjadi hal yang pasti.
2. Mungkin saja waktu bersifat relatif. Faktanya terjadi pembagian waktu berdasarkan letak geografis suatu wilayah. Maka, hari ini bisa menjadi masa lalu dan masa depan bagi manusia lainnya. Namun sebenarnya perbedaan dimensi ruang dan waktu yang ada, tidak menghambat manusia untuk saling berkomunikasi. Buktinya perbedaan wilayah, apakah itu berbeda daerah atau bahkan benua, masih bisa telpon meski jam, hari, tanggal, dan tempat berbeda. Berkat rasa ingin tahu manusia demi kemajuan hidupnya, mereka berupaya menciptakan teknologi sebagai alat pemecah misteri. Kemudian digunakan untuk mempermudah aktifitasnya, TAPI BUKAN UNTUK MENGGANTIKAN FUNGSI DAN NILAI MANUSIA ITU SENDIRI. Sehingga manusia dapat melakukan aktifitas komunikasi dimanapun mereka berada. Saling bertukar informasi dengan masing-masing caranya.
3. Kalau begitu, hal tersebut juga berlaku tidak hanya bagi sesama manusia yang masih hidup. Tetapi juga bisa terjadi antara manusia yang hidup dengan yang sudah meninggal. Mereka hanya berada pada dimensi yang saling berbeda satu sama lain. Tapi masih tetap bisa berkomunikasi. Mungkin tak bisa dengan cara yang sama. Karena dimensinya terlalu jauh berbeda. Kalau sesama manusia yang hidup bisa melalui telpon atau lain sejenisnya, karena ada "kesamaan" yaitu unsur fisik yang masih bisa berfungsi. Namun berbeda dengan mereka yg hidup dan yg telah mati. Mungkin akan menggunakan cara komunikasi yang berbeda satu dengan lainnya. Sehingga dibutuhkan tingkat kepekaan yang tinggi untuk menyampaikan pesan dengan tepat, untuk saling memahami. Mungkin salah satu cara yang dipakai orang yang telah mati adalah dengan simbol, tanda, dan isyarat. Dan manusia yang masih hidup membacanya dengan sandi-sandi khusus untuk kemudian ditransformasikan dalam bentuk perkembangan teknologi. Ini pun bisa terjadi diantara manusia dengan Sang Pencipta.
4. Karena saya muslim, saya teringat waktu masih kecil ikut pengajian nenek-nenek bersama nenek saya. Katanya orang yang meninggal itu kalau di dalam kubur, hitungan waktunya berbeda dengan kita yang masih hidup. 1 hari disana, hitungannya sama dengan beberapa tahun di kehidupan manusia atau sebaliknya. Jadi tidak ada nanti nenek-nenek atau kakek-kakek di alam akhir, semua akan muda kembali. Atau orang yang pernah mati suri konon katanya awet muda. Ya itu tadi, point di atas. Mungkin perbedaan dimensi ruang dan waktu menyebabkan perbedaan bentuk fisik. Misal, kalau saya menembus dimensi lain yang jauh jaraknya, 1 hari saja saya pergi, hitungannya bisa puluhan tahunan di bumi. Jika semakin lama saya pergi maka semakin berlipat lamanya di bumi. Dan saat saya kembali ke bumi, saya masih muda tapi orang-orang yang saya temui kembali akan lebih tua karena fisik mereka mengikuti perputaran waktu dari dimensi dimana mereka berada.
Jadi... Waktu sangatlah relatif.
Dan bukan tidak mungkin, yang telah pergi dan berlalu akan kembali.
Karena waktu adalah kita. Maka pikiran dapat mengembalikan hal yang telah pergi, yang telah lewat, dan yang telah terlupakan.
Inilah point yang saya simpulkan sendiri dari film Interstellar. Dan entah mengapa, -ini subjektif sekali- mungkin lagi-lagi karena saya seorang pemeluk agama Islam, saya menemukan nilai-nilai ajaran islam di dalamnya yaitu berpikir, berkreasi, bernilai, berguna, dan terus berusaha untuk hidup yang lebih baik. Bukan hanya sekedar pasrah dan bergantung kepada rasa ketidaktahuan. Saya kira semua ajaran agama, mengajarkan demikian.
Maka, saya katakan ini adalah film yang bernilai religius dengan kemasan yang modern. Itu saya temukan dari film barat.
Lalu mengapa kita masih sibuk untuk hal-hal yang menguras tenaga namun tak berguna?
Vita Balqis - INTERSTELLAR
*curhat pagi-pagi.
Monday, 24 Nov 2014
10.46 am
0 komentar:
Posting Komentar