Rabu, 23 April 2014

Sahabat Satu Malam

Aku ingin berteriak tepat di telinga-Mu. Namun sungguh malu kulakukan. Urung dan padamkan hasratku itu. Aku yakin. Setiap malam Kau telah mendengar aku menjerit dalam benak dan batin. Aku ini bagian kecil dari Mu. Apa yang aku tahu, Kau juga pasti tahu. Dan begitu pula atas rasa. Kau dan aku adalah satu.

Alangkah tak tahu diri jika aku mengemis memanjatkan segala kepedihanku. Mengeluh, merengek bak seorang pecundang berbalut jubah suci di atas sajadah.

Aku pun tahu bahwa deritaku tak seberapa pedih. Seandainya aku dapat mendengar jerit derita mereka yang tuna wisma, mereka yang tak mengenal ibu-ayahnya, mereka yang tak tahu besok bisa makan atau tidak. Aku tentu tak pantas mengadu. Karena aku di titik aman tentang ini.

Namun Tuhan, kita bersama tahu bahwa hidup punya tingkatan. Di situlah persoalan bisa datang secara beragam. Deritaku-derita mereka berbeda. Mungkin aku terlalu abstrak. Bukan minum atau makan. Tetapi... Impian.

Sekali lagi aku ragu meneruskannya. Jika Kau tak berkenan, kita bisa hentikan rengekanku ini!

....

Baiklah, aku lanjutkan. Mungkin bentuk relasinya bisa kita ubah sementara. Bisakah Kau turun sejenak dari ketinggianMu yang melampaui segalanya? Agar aku tak sungkan. Kita menjadi sahabat satu malam. Ini terasa lebih dekat dan nyaman.

...

Sahabatku, aku merasa lebih mirip mayat hidup. Nyawaku menempel pada impian. Impian itu jelas kulihat tergesa-gesa berjalan mendekati gerbang selamat tinggal. Kini aku tak berhasrat, tak bersemangat. Bahkan mungkin sebentar lagi aku tak memiliki diriku. Hanya kehendak dan program orang lain yang kujalankan. Menjadi robot manusia atau manusia robot, entahlah!

Aku cemas. Bila semua datang semakin nyata, aku tak bisa lagi membedakan hidup dan mati. Tak mengenal kata manusiawi.

Sahabat! Aku merasa begitu sulit jalanku. Aku merasa begitu rumit. Aku merasa semua benar-benar terlambat. Kukira cukup luapanku. Dan kini, silakan Kau berbicara.

...

Baiklah. Aku malam ini memang sahabatmu, tetapi keinginanku masih sama layaknya Aku Tuhanmu. Aku tak akan berpanjang-panjang kata memberikan dengan mudah takdir baikmu. Meluruskan liku jalanmu. Membuka tangan dan memberikan kunci jawaban. Tak akan kulakukan. Kau tahu mengapa? Aku ingin kamu menjadi umat manusia yang cerdas, berproses, dan terus belajar. Sebagai sahabatpun, sama.

Kamu yang membuat keputusan tentang hidupmu, bukan aku. Tuhan hanya memberi batas pasti interval dari kelahiran hingga kematian. Itu pun kamu bisa mendahului batas yang diberikan jika kamu tak menjaga kesehatanmu atau bertindak konyol bunuh diri.

Sebenarnya... persoalanmu hanya satu, yaitu "merasa". Ini persoalan sederhana sekaligus rumit. Kamu mau memposisikan kata itu dimana? Dan sebagai apa?

"Merasa" dapat menjadi persoalan rumit ketika kamu menyandingkannya dengan padanan kata yang memberi ruh negatif. Ingat! Kata memiliki ruh, dia hidup di saat kita memberikan makna dan kesakralan padanya.

Dan sebaliknya, jika kamu mengawinkan kata "merasa" dengan padanan kata yang tepat pada konteksnya hingga menghasilkan makna dan ruh yang positif. Dia akan menyalakan spirit atau semangat dalam hidupmu.

Apapun yang datang, punya potesi menjadi apa saja, baik dan buruk. Kamulah yang bertugas bertanggung-jawab atas proses dan hasilnya. Kamu juga punya kuasa dan kendali atasnya. 

Pertempuran ini akan terus terjadi di benak dan hatimu. Hati dan akal sehatmulah yang berperan penting.  Bagaimana teknisnya untuk mengontrol, hanya kamu sendiri yang mengerti.

Perlu diingat, persoalan hidup itu selalu terkait bagaimana kesadaran kita akan sesuatu dan bagaimana kita dapat mengatur keseimbangan, terutama pada hati yang menciptakan keyakinan.

0 komentar:

Posting Komentar