Minggu, 27 April 2014

Hair Multistylist vs Potong Rambut

Aku sedang berkeinginan besar untuk memangkas rambutku ini, dari Yang tadinya sepanjang pinggang menjadi sebahu. Kalau diingat-ingat hampir 6 tahun belakangan rambutku hitam+panjang. Ya gitu-gitu aja. Malah kalau diingat lebih jauh aku sudah berambut panjang sejak masih main congklak. Hingga menjumpai kebosanan pertama kali setelah berhenti dari pekerjaanku sebagai Sales Mobil Honda di pertengahan  tahun 2007. Blas... Tanpa pikir panjang pangkas pendek sekali+gonta-ganti warna rambut. Entah nama style rambutnya apa! Mirip potongan Maya Estianty sih, agak ngetril. Hahaha. Dan akhirnya rambut panjang kembali.

Nah sekarang berulang kembali. Mulai jenuh lagi dengan rambut panjang+hitam. Benar-benar tak pernah diubah. Memang ada perbedaan antara dulu dengan sekarang. Jika dulu aku tak perlu berpikir panjang  untuk memangkas rambut banyak atau sedikit dengan beragam bentuk dan warna, belakangan sebaliknya. Tidak lagi semudah dulu. Aku merasa sudah tidak berani lagi untuk uji coba segala bentuk rambut. Oh bukan-bukan! Tepatnya sudah bukan saatnya lagi melakukan eksperimen dengan rambutku. Usia kali ya? Ah padahal ini gejala buruk. Mungkin saja hidupku pun begitu. Mulai terperangkap di zona nyaman. Takut untuk keluar dan mencoba hal baru. Persis seperti penggalan kalimat dalam film Transcendence, "Manusia itu selalu takut dengan hal baru yang mereka tidak ketahui." Kira-kira begitulah kalimatnya. Kalau kata temanku -Mujib- Dalam konsep Ushul Islamnya,  disebutkan "al-Naasu a'daa-u maa jahilu" artinya manusia itu secara naluri akan menentang apa yang ia tidak ketahui. Apakah aku mulai menutup diri? Ah... urusan rambut saja, aku terlalu sensitif. Ya memang, aku super sensitif. Ciri psikologis seperti aku ini bisa jadi negatif namun juga tidak menutup kemungkinan menjadi positif. Tinggal bagaimana mengontrolnya.

Oke... Aku kembali lagi pada persoalan rambut. Kali ini aku melibatkan pihak lain. Pacar. Maaf bukan bermaksud pamer namun saat ini begitulah keadaannya. Semoga dapat dimaklumi jika masuk dalam cerita. Baiklah dilanjutkan lagi. Pacarku bukan orang yang egois, dia mendukung apapun yang terbaik. Jadi tak keberatan jika aku memotong rambutku. Malah sudah beberapa kesempatan dia mengajakku untuk potong rambut. Tapi sempat kutunda-tunda. Karena masih ragu besar. Wajahku bulat, akan terlihat bulat lagi jika pendek. Itu yang selalu teringat.

Sampai di satu sore, kemarin. Pacarku mulai gerah dengan keluhan jenuhku. Aku sering mengeluh bahwa ini terlalu panjang, bokongku sudah serambut! Upps... terbalik. Hahaha. Untuk apa rambut panjang, toh aku lebih sering mengodenya dan unyel-unyel. Mungkin karena sudah mengganggu. Akhirnya pacarku tak tega mendengar keluhku. Dia langsung mengajakku mencari salon yang masih buka. Oiya... sore dia datang ke rumah, lalu kami pergi dan setelah pergi itulah aku mengeluh seperti yang kuceritakan barusan. Itu dia kenapa tadi aku bilang cari salon yang masih buka. Kami pulang malam dan jam menunjukan pukul 10 malam. Di dekat rumah tak ada satu pun yang masih buka. Cancel!

Kami sampai di rumah akhirnya. Tiba-tiba aku baru ingat. Sore itu sebelum kami pergi, pacarku datang dan membawakan seperangkat alat hair multistylist -bukan seperangkat alat shalat ya! Hahaha- lengkap! Mulai dari catokan hingga 4 jenis alat curly. Nah loh! Aku rasa dia sempat lupa kalau aku mau gunting rambut. Aku pun saat menerimanya lupa kalau aku bakalan berambut pendek tak lama lagi. Jika nekat dan khilaf, hahaha. Untung salon semua sudah tutup malam kemarin. Jadi alat itu masih punya harapan untuk dipakai. Aku kira sampai cerita ini ditulis, pacarku belum menyadarinya. Kecuali jika dia sudah baca cerita ini. Hahaha....

Kami berdua pelupa! :)

peristiwa Jakarta 27 April 2014

0 komentar:

Posting Komentar