Selasa, 23 April 2013

Malam dan Manusia Utuh


Oke, sekarang ini angin bertiup dengan sangat lembut. Perlahan mengusir peluh makhluk bumi. Dari pagi hingga sore kita sudah disibukan dengan berbagai hal yang memaksa kita menjadi robot atau budak uang. Setelahnya, malam selalu setia hadir untuk mengembalikan kita sebagai manusia lagi. Manusia yang pikirannya tidak melulu diseret oleh kesibukan fisik ataupun apa yang nampak. Bahkan malam bisa memperlihatkan kejujurannya lewat rileksasi parasnya. Gak percaya? Coba saja, berapa banyak orang berkata "aku perlu/harus istirahat" atau "aku santai malam ini". Dua pernyataan itu jarang dan sulit ditemukan pada siang dan pagi hari. Bisa-bisa pada waktu itu mereka berbohong pada diri sendiri dan orang lain. Betapa tidak! Sebenarnya kita lelah dan tak mungkin menolak pekerjaan yang datang pada pagi-siang hari. Itulah keistimewaan malam. Belum lagi, malam membawa kebersamaan bagi keluarga yang terpisahkan oleh kesibukan.

Karena malam bisa memberikan kejujuran dan menjadi pemersatu, itu mengapa kita bisa merenungkan segala peristiwa yang telah terjadi jauh lebih dalam dan jernih. Malam adalah manusia yang melihat kembali dirinya.

Nah! jika sudah rileks kita bisa berpikir lebih dalam dan tajam dengan cita rasa yang ringan dan lembut. Jauh lebih ringan dari sekedar hisapan rokok mild. Yang tentu tidak bisa dilakukan di siang hari (siang hari itu berpikir sedikit saja terasa berat, karena terkadang kita tidak utuh, kebisingan memecah diri).

Mari sejenak pejamkan mata dan hirup udara pelan-pelan, lalu hembuskan dengan cara yang sama. Buka kembali mata, juga dengan perlahan. Lihat kembali apa yang sudah terjadi di sekitarmu! Apapun itu, kita berhak mempertanyakan kembali dan merenungkannya untuk kemudian menjadi bekal di siang hari.

Apa yang kalian temukan?
Aku menemukan sesuatu.

Dengan mengamati sekitar. Aku mendapati beberapa hal yang belakangan cenderung terperangkap dalam satu arah. Hampir mutlak jatuh ke dalam lembah yang tak lagi netral. Apa itu?

"Kata-kata dan Peristiwa" yang terdiri dari

  1. kata "perubahan" atau "berubah"
  2. kata "kelebihan"
  3. kata "marah"
Ketiga peristiwa di atas yang diwakili oleh kata, kini mulai masuk menjadi persoalan. Inilah yang ingin aku pertanyakan. Mengapa ketiga hal tersebut jika kita ucapkan seolah arah maknanya bergulir hanya kedepan saja, tak mungkin kebelakan. Atau sebaliknya. Begini, aku akan urai atau bahasaku bredelin satu per satu.

1. Perubahan
Berawal dari penantianku akan kabar dari seseorang. Sedikit-sedikit aku memandangi ponsel. Berulangkali begitu. Lalu di malam harinya aku terbayang gambar tema dari ponselku yang bertuliskan:
 "You said, change yourself for me" When I changed my self for you, you left me by saying that "you are changed".

Dan aku setuju dengan tulisan itu. Bahwa yang namanya "perubahan" atau "berubah" tidak serta-merta rodanya berguling maju ke arah yang positif. Heran aku, mengapa begitu banyak orang yang percaya kata "berubahlah!" mengantarkan harapannya ke arah yang lebih baik. Padahal berubah bisa menjadi lebih baik dan juga sangat bisa menjadi lebih buruk. Jangan salahkan peristiwa dan kenyataannya jika setelah berubah, keadaan jauh dari apa yang dibayangkan.Yang salah adalah dirimu sendiri yang kaku memaknai perubahan. Sehingga tidak siap dengan kemungkinan yang melenceng. Kata "perubahan dan berubah" harusnya diposisikan netral. Jadi kau akan bisa memprediksi kemungkinan, sekalipun dia berjalan maju atau mundur.

2. Kelebihan
Hampir sama dengan kata perubahan. Kata "kelebihan" juga jatuh pada satu makna yang berarti "lebih" dimana arah panahnya bernilai yang bagus-bagus saja, versi umum. Padahal kelebihan juga bisa berarti kekurangan dan sebaliknya. Kenapa tidak? Aku pendek, nakal, gak bisa diam. Itu bisa jadi kelebihan, bukan kekurangan. Mengapa malu mengakuinya? Hanya karena ketiga kelebihan itu dekat pada nilai yang sekilas dianggap buruk, lagi-lagi menurut biasanya. Hiduplah di luar kebiasaan! Tidak ada salahnya. Karena bisa jauh dari kemandekan.

3. Marah
Ini lagi. Berapa banyak orang yang sering bilang, "jangan marah! Itu tidak baik." Apanya yang tidak baik? Kalau marah itu dilarang dan buruk, mengapa Tuhan menganugerahkan kita sifat dan perasaan marah? Bunuh saja rasa itu atau cabut saja dari manusia! Tetapi Tuhan tidak salah. Hanya kita yang harus melihat kembali apa itu amarah. Marah itu perlu. Marah itu baik. Marah itu tidak salah. Amarah juga sangat butuh diaktualkan. Dia perlu keluar, jangan hanya ditekan dan dipendam. Bisa marah itu sehat lho! Yang mesti diperhatikan adalah seberapa besar kau boleh meluapkan amarahmu. Soal kontrol saja. Jadi, yang bilang marah itu gak baik, coba pikir-pikir lagi!

Kira-kira itulah yang kutemui di sekitarku. Kebiasaan memang menenggelamkan rasa ingin tahu. Kita hanya perlu berani bertanya, minimal pada diri sendiri. Jangan begitu saja menerima apa yang dianggap baik-baik saja. Dan malam hari tak pernah ingkar atas keistimewaannya. Kita bisa merenung bersamanya. Selamat mencoba!


       








0 komentar:

Posting Komentar