Selasa, 02 April 2013
Di Balik Tabir "Surat Dari Sang Fajar"
Senja mengurai surat cinta yang telah sampai pada tangan sang fajar:
Kalau saja kalimat pesan singkatmu tidak menyakitiku. Aku tidak akan menuliskan argumenku yang tidak sederhana ke dalam sebentuk surat panjang sebanyak 6 lembar, yang kemudian kuberi judul "Surat Dari Sang Fajar". Aku tahu, pasti butuh banyak energi untuk membacanya. Bahkan mungkin kau harus mengulangnya berkali-kali.
Aku bukanlah "perempuan" yang melihat diri sebagai korban. Di hadapanku kau tak bisa semaumu bermain-main dengan "kuasa" lelaki. Aku tidak akan terlahir sebagaimana ibuku. Yang rapuh jiwanya karena lelaki itu (bapak) begitu saja meninggalkannya. Meninggalkan dirinya, meninggalkan bekas luka di fisik dan hatinya. Lelaki itu pergi. Hingga aku tak pernah mengenalnya.
Lain ibu. Lain aku. Aku sudah harus terlahir untuk mengobati luka-luka yang telah kudapati sejak lahir. Luka batin yang makin hari makin menjadi. Luka yang tidak akan pernah dapat dilihat dengan mata fisik telanjang. Luka kerinduan sosok yang tak pernah kunjung padam. Luka dari kerinduan sosok yang pernah datang, lalu menghilang. Luka dari kesendirian. Luka dari perjuangan perempuan untuk kisahnya. Yang tercerabut dari akar.
Dan kau hadir dalam hidupku entah sebagai lelaki yang kesekian. Ingin bermain dalam lingkaran penaklukan. Punya nyali memulai lewat bingkai yang biasa memberi pandangan perempuan dapat ditaklukan dan ditinggalkan lalu sukses berlebel korban.
Ternyata kau salah datang. Ingin menyakiti, malah tersakiti. Meskipun aku tidak bermaksud menyakitimu melalui surat dan sikap dinginku. Tetap aku bisa prediksi bahwa surat dan pengakuan keperempuananku cukup menampar keangkuhanmu atau keegoisanmu. Surat yang menjelma menjadi pemandu untuk membawamu melihat panorama lain dari kacamata yang unik, kemudian berkeliling disekitarnya.
Surat yang akan menjadikan kita lebih jujur melihat diri satu sama lain sebagai manusia perempuan dan manusia laki-laki. Sebagai makhluk bumi yang saling mengisi.
Lepas dari itu semua, "mungkin" aku telah menyukaimu dengan sungguh. Itulah mengapa aku membiarkan kita semakin jauh berjarak. Tidak mencarimu. Tidak menghubungimu. Bukan karena aku cepat menyerah atau bahkan tidak berusaha. Tetapi sejujurnya aku tak punya nyali untuk mencinta. Aku cemas tidak bisa membahagiakan orang yang kucinta atau mencintaiku. Sebab aku tahu, setiap orang menyisipkan impian dan harapannya kepada pujaan dan belahan hatinya. Aku perempuan yang rasanya tidak punya brankas kebahagiaan untuk orang lain. Aku tidak ingin memberikan kepalsuan kepada siapapun. Sesungguhnya aku benci bila harus bicara "kecemasan" ini. Kecemasan bertolakbelakang dari apa yang menjadi prinsipku. Semestinya aku dituntut untuk menaklukannya agar aku bisa lancar berproses dalam eksistensiku. That's life. No body's perfect, sekalipun itu soal prinsip. Yang ada hanya proses.
Di akhir, aku hanya ingin berkata "maaf" untukmu, sang fajar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar