Senin, 01 April 2013

"Begadang Bersama; Vita dan Time Line Twitter"


"Begadang Bersama; Vita dan Time Line Twitter"

Saat twitter menyodorkan serentetan unek-unek orang yang berbaris di beranda. Aku melihat ada satu nama akun yang berkeluh karena kesulitan menterjemahkan satu konsep kepada dunia lain yang menggunakan pendekatan berbeda. Dia sedang berpikir bagaimana caranya menjelaskan konsep yang begitu abstrak kepada penganut materialisme?

Tiba-tiba ini isi kepalaku yang seolah menjawab pertanyaan itu meski mungkin belum bisa menjadi solusi bagi si pemilik akun:

Mungkin karena aku sering menggunakan metafora sebagai alat bantu untuk menjelaskan banyak hal. Terutama ketika menjelaskan konsep pemikiran yang abstrak atau tentang "rasa" misalnya. Yang aku lakukan pertama kali adalah mencoba berdiri dan hidup secara bergantian (pikirannya). Dimulai dari mengenal kehidupan dan segala sifat abstrak (dari objek yg ingin disampaikan) untuk bekal mencari sebuah padanan benda atau sistem sebagai metafor dalam bentuk konkret yang kira-kira punya kemiripan atau kedekatan. Hanya untuk menyederhanakan saja. Bukan untuk menyamakan. Sama bukan berarti satu. Pada prinsipnya pengertian/pemahaman itu diperlukan tidak untuk selalu menyatukan, paling tidak untuk mendamaikan. Mereka akan tetap sebagai 2 objek terpisah di lintasannya masing-masing dengan garis kedekatan yang nyaris menjadi bagian satu sama lain. 

Cara itu aku gunakan karena sampai saat ini aku masih berpandangan bahwa banyak fenomena yang terjadi dimanapun yang bisa diwakilkan oleh fenomena lainnya. Mereka menjadi terlihat berbeda karena hasil kreatifitas bahasa penyampaian dari tempat munculnya peristiwa tersebut.

Mungkin rumusahnya: 
1. Pengertian harus mampu berdiri ditengah (adil/seimbang) dari sinilah dia akan memperoleh banyak sumber informasi lalu muncul dalam bentuk media.
2. Kerumitan dan kesederhanaan beriringan dan pengertian adalah tangan yang menggenggam diantara mereka. 
3. Setiap bidang punya bahasanya sendiri. Tetapi persoalan bisa saja sama. 

Berpikir kreatif adalah berpikir untuk selalu mampu menyederhanakan dan menjelaskan segala sesuatu yang rumit. Sebagai contoh: kalkulator ada, untuk membantu menyederhanakan cara menghitung, komputer, alat komunikasi, dsb adalah bentuk efisiensi yang diharapkan bermuara pada efektifitas. Memang tidak 100% efisiensi akan berujung efektifitas, selalu ada bentuk kecil penyimpangan. Semua terserah anda. Di luar sana juga masih banyak cara pendekatan yang tepat dan dapat dipilih. Tidak ada satupun metode yang mutlak. Sepanjang hidup kita akan mencomot sedikit atau banyak metode dari beragam varian yang ada dan memformulasikannya kembali menjadi metode baru.

29 Maret pukul 7:21

0 komentar:

Posting Komentar