Seringkali aku menyaksikan hari yang katanya memiliki waktu panjang, dengan tanpa tidur barang sekejap. Aku ingin tahu bagaimana hari berganti dan berubah.
Orang bilang sekarang hari minggu. Ah, tak ada bedanya dengan sabtu, senin, dan hari lainnya.
Sejak lama, aku mencari-cari tanda pembatas antara sabtu dengan minggu. Tidak pernah kutemukan.
Yang ada hanyalah cahaya mentari yang bersinar kembali dan bangunnya para makhluk hidup yang mayoritas beraktivitas di saat cahaya memenuhi wilayah ini. Lalu berganti gelap dan mereka terlelap lagi.
Jadi benar, bahwa waktu dan ruang juga hasil dari konsepsi dan interpretasi manusia.
Betapa sudah bekerja keras para manusia dahulu untuk menembus keterbatasannya. Mencoba membatasi alam semesta yang sulit berbatas. Tentu hasilnya terbatas pula.
Buktinya, konsep hari Minggu saat ini, disepakati di Indonesia dan di beberapa wilayah. Tetapi belum tentu di sebagian belahan dunia lainnya.
Itu artinya terjadi keadaan yang berbeda pada satu waktu. Atau malam di sini, siang di sana.
Berbedakan? Jelas, lagi-lagi ini berarti terbatas.
Siapa yang membatasi?
Manusia itu sendiri.
Perbedaan adalah hasil dari upaya menembus batas yang dikerahkan manusia untuk segala kebaikan bersama di dalam kehidupan.
Lalu mengapa harus bertikai ketika kita berbeda?
_Vita Balqis dan Alam Semesta_
Senin, 17 Desember 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar