Selasa, 16 Oktober 2012

Thanks God, I Have gods Around Me


Bangga punya ibu dimana dengan kepolosan dan pendidikannya yang tidak tinggi, dia selalu berjuang melawan lelah untuk terus bisa merawat dan menjaga orangtuanya (dari sejak kakek kami ada hingga kini sudah lama tiada; begitu juga dengan nenek kami, yang kondisinya telah lama mengidap stroke dan baru saja selasa (9 oktober 2012) dini hari, terjatuh. Mengalami benturan di kepalanya yang mengakibatkan kebocoran, yang menambah parah kondisinya karena makin sulit bicara ketimbang sebelumnya. Untunglah masih bisa selamat meski miris sekali melihatnya). Ibu adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Kalau selama ini katanya anak bungsu selalu dipenuhi kebutuhannya, itu tidak berlaku bagi ibuku. Aku berpikir, banyak terjadi ketidakadilan dalam perjalanan hidupnya. Misalkan, semua kakak ibuku, minimal mengenyam pendidikan hingga Aliyah di pondok pesantren  atau di sekolah yang berbeda-beda (bagi yang mungkin belum tahu Aliyah itu apa, Aliyah adalah sekolah setingkat dengan SMA). Bahkan ada yang menikmati bangku kuliahan. Ibuku tidak, dia hanya sampai tamat SD, pernah sampai Pendidikan Tingkat Menengah namun tidak bisa sampai tuntas. Entah mengapa! Padahal kondisi fisik dan materi kakek-nenekku saat itu masih sangat mampu untuk membiayainya. Memang ibuku kurang beruntung di chapter ini dalam kisahnya. Dalam chapter lain, ibuku bukan seorang pendendam, jangankan kepada saudaranya, kepada yang lainpun sama. Semboyannya adalah “kumpul yuk! Makan gak makan yang penting keluarga kumpul”. Semboyan inilah yang sering bentrok denganku. Beliau kesal sekali denganku jika aku menolak kalimat itu. Ku bilang, “Makan gak makan kumpul itu gak tepat untuk saat ini, bu. Kenapa? Karena saat inilah kami, para anak harus bertarung dengan segala kompleksitas di luar sana, biarkan kami jarang membagi waktu di rumah untuk pergi mencari pengalaman di rimba Jakarta ini. Setelahnya, kami pasti pulang. Jika tidak begitu, kami akan kalah, nantinya kami tidak akan punya mental yang tangguh dan tak tahu apa-apa. Kumpul bisa, tetapi kalau perut lapar, kumpulpun tak enak. Yang ada tinggal keributan yang tercipta. Karena perut sama-sama lapar, sedikit dengar kata akan menjadi amarah. Kalau sudah begitu, lebih besar kerusakannya dari pada manfaatnya.” Biasanya setelah aku bicara, ibu akan berkata “anak disekolahin malah melawan bukannya nurut sama orang tua.” Hahaha… Biasa, kalimat sakti para orang tua itu. Dan perbincangan makin memanas dan memanjang. Ah, sudahlah! Pokoknya, ibu tetap pahlawan kami. Merdeka!      

Bangga juga punya 2 adik yang sependek ini, tidak terlalu merepotkan, mereka senantiasa menerima kehidupan kami yang sangat sederhana. Dia adalah Imam Irfan Dadi yang belakangan menerima dengan lapang dada bahwa keinginan dan rencananya belum bisa kami terima untuk diwujudkan, karena kami belum mampu (apakah itu? Rahasia kami). Sekarang dia barusaja resign dari pekerjaannya, semoga segera mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik lagi. Selain baru resign, dia juga baru putus cinta, hehe (aku katakana kepadanya bahwa perempuan yang sama baiknya seperti si doski di dunia ini masih banyak, Mam… -Mam, begitulah aku memanggilnya-  tenang saja! Malah masih banyak yang jauh lebih baik, ini bukan karena menilai seseorang  lewat statusnya, tetapi penilaian yang netral. Kalau memang belum jodoh, mau bagaimana lagi. Do'akan saja agar mantanmu bahagia). Intinya, adikku habis dilema karena dihadapkan dengan persoalan bahwa mantan kekasihnya dijodohkan dan menikah dengan orang lain pilihan keluarganya. (hem... perjodohan memang masih eksis di kelas sosial manapun, ada yang terima dan ada juga yang kuasa untuk menentang). 

Aku juga bangga dengan si bungsu, adalah Sherlia Syahroni (bukan Syahrini ya…), yang setiap hari tahan terhadap cuap-cuap ibu (maklumlah, ibu kami hobby memberi intruksi ini-itu. Jangan coba-coba jadi pemalas dan hidup ala raja/ratu di rumah kami, pasti dapat hadiah dari ibu, apalagi kalau mendapati rumah berantakan, siap-siap saja! Sebab semenit saja ibu dapat diam, baginya dunia hambar. Tetapi, sungguh baik hatinya dan baik tujuannya). Adik perempuanku, kini sedikit-banyaknya sudah mulai mengerjakan apa yang dulu menjadi tugasku seorang diri di rumah. Dia periang, tepatnya “rame”. Meski kadang hobby nanggis gak jelas, haha… (mungkin karena soal cinta, biasalah). Oiya, seandainya ada pihak dari MURI hadir di tengah kami, aku yakin adikku yang satu ini dapat penghargaan karena ponselnya hampir 18 sampai 22 jam aktif telponan, (charger adalah sahabatnya, kalau begini sudah tentu, bukan?) kadang, dia sambil beraktivitas tetapi ponselnya tetap aktif dalam kondisi terima telpon, gila banget! Thanks karena belakangan selalu mengupaskan mangga yang kebetulan sedang banyak dibawakan saudara dan tamu yang berkunjung. Terima kasih juga buat telur dadar atau ceploknya (dia tahu betul bahwa aku suka sekali makan telur).

Ada ibu, ada ayah. Beliau juga tidak kalah luar biasanya. Meski berprofesi sama seperti ibuku, yaitu ibu rumah-tangga. Ayahku juga seorang ayah rumah-tangga yang handal. Siapa yang berani bilang bahwa itu bukanlah sebuah profesi? Hadapi aku dulu (sekali-kali belaga kayak jagoan di tv, hahaha)! Karena untuk stand by bekerja dan siaga di kantor yang bernama "rumah", tidak bisa dipandang sebelah mata. Jenuhnya, jangan ditanya (BT pol). Kalau tidak pintar-pintar menghibur diri dan berpikiran positif, bisa gantung diri. Orang tuaku bukan tidak mau kerja atau pemalas, tetapi hidup hadir kedalam kisah mereka dengan wajah "diantara pilihan yang sulit" dan pilihan itu nampak seperti tidak memilih apa-apa, hasilnya mereka serba bingung mau mencari/menciptakan pekerjaan, mulai dari mana, seperti apa, dan bagaimana? (sementara nenek tak bisa ditinggal-tinggal) Apalagi perkembangan dunia informasi begitu pesat seolah tak bisa menunggu, dia terus berlari tanpa peduli. Itu menandakan juga bahwa perubahan pada sektor lain berlari kencang, ya tentunya dalam urusan permodalan juga, jika ingin usaha. Intinya, sudah mentok sana-sini. Namun, aku selalu bangga pada ayah. Walau bukan ayah kandungku melainkan ayah kandung dari adik-adikku di mataku tidak ada beda, asalkan tidak bicara soal eksistensi laki-laki dan eksistensi menjadi seorang ayah versi aku, ya... Beliau sangat berarti, karena sabar, menerima kehidupan kami yang masih serba kekurangan di sana-sini dengan penuh syukur. Bahkan, waktu kebersamaannya dengan ibu banyak terlewatkan, mereka sibuk mengasuh nenek kami. Kami seperti membagi tugas, walau tak pernah ada kesepakatan seperti itu. Inisiatif  yang terbangun dengan sendirinya. Aku selalu berjaga dimulai dari malam sampai pagi menjelang, sambil menulis status facebook dan menulis apa saja yang kupikirkan. Itu karena aku si mata kalong, kuat begadang.
Dan tentang aku? Itu nanti. Aku akan bercerita fase per fase dalam perjalananku.
^_^ Thanks God, I have gods around me ^_^    (03:34 Am)

0 komentar:

Posting Komentar