sini. Iya, bukan? Ah, aku puas rasanya! (Diam sesaat dalam hening berteman angin, sadarku bicara bahwa aku belum puas) Tungu, tunggu dulu. Dengan siapa aku bicara? Dengan siapa aku membagi apa yang kulihat ini? Apa yang bisa terbaca dari sini. Dengan siapa? Dengan diriku sendiri? sudah tentu. Tetapi mengapa aku belum puas? Pasti karena aku tidak bisa berbagi dengan mereka yang ada di luar diriku. Aku membayangkan begitu sulitnya ketika aku turun dan membagi ceritaku, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi jika mereka tak pernah kubawa kesini. Aku harus menyertakan mereka untuk ikut menaiki menara ini! Untuk melihat betapa kerumitan dan keragaman itu adalah panorama yang indah. (Berlari turun sambil berdialog dengan diri) Aku tak mau sendirian di atas sini. Aku harus membujuk mereka agar mau. Sekalipun anak tangga ini tidak dapat dipijak 2 atau 3 orang dalam satu jajar pijakan. Dimana itu akan menghasilkan waktu yang tak tepat bersamaan saat kami sampai di atas menara. Tak apa jika aku lebih dulu, aku akan menggenggam erat tangan mereka yg di belakangku. Dan kuminta perlakuan yang sama kepada orang selanjutnya. Persis seperti melanjutkan tongkat estafet. Toh, satu per satu mereka akan sampai juga. Aku akan menunggunya di atas. Setelah itu kami bisa saling berbagi dan mengerti.
Selasa, 16 Oktober 2012
Malam dan Aku Part 1
Semampuku, aku terus berupaya untuk sampai di atas menara itu. Yakin, bahwa semuanya bisa terlihat menyeluruh dari atas sana. Terus berlari, menapaki tangga-tangga hingga sampai pada apa yang selama ini aku kira. Benar saja. Segalanya terlihat jelas. Begitu indah. Dari sini, tak kutemui kerumitan di bawah sana. Kalaupun nampak, aku dapat mengurainya, sebab titik kerumitan dapat terbaca jelas dari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar