tak kunjung mengenal rem. Macam-macam yang singgah di dalam pikiranku mulai dari apapun yang kulihat sampai yang kurasakan. Setiap pengendara yang lalu-lalang di jalan menimbulkan tanya bagiku. Silih berganti topik yang bersarang di kepalaku. Tak terasa, sampai juga di rumah. Ini yang paling istimewa. Bukan... Bukan karena aku merasakan rumahku istanaku ataupun aku yang lelah dan segera ingin lompat dan rebah di kasur. Tetapi ada seorang laki-laki bersama sepeda tuanya. Dia adalah tukang pijat/urut, kami biasa memanggilnya Mang Dedi. Sepagi itu dia masih mau untuk memijat salah satu keluargaku. Dan karena aku merasa pegal-pegal di lenganku, aku ingin ikutan juga minta dipijat tetapi kasihan, ini bukan waktunya lagi dia masih bekerja. Namun apa jawabnya. Dia bilang "gak apa-apa neng, sini! Ni udah selesai. Emang udah tugas mamang." Ya sudah, aku mau saja (hehe). "Kok jam segini masih keliling aja, mang?" tanyaku. "Iya, mamang mah gak ngebatasin waktunya, neng. Kan takutnya ada orang yang mendadak sesak atau kesleo, masuk angin atau sakit karena pegel-pegelnya udah kedalon. Kan gak bisa ditunda-tunda. Itu udah tugasnya saya emang." Jawabnya. Berarti mamang gak punya waktu buat diri sendiri? Harus dibatasin tuh mang! Jangan sampe membantu orang tapi malah nantinya diri sendiri ikutan sakit." Lanjutku. "Insya-allah selama ini mah alhamdulillah bae-bae aja. Ini kan emang udah tugas." Ulangnya. Selesailah tugasnya memijat kami. Lalu dia beranjak keluar dari rumahku. Menuntun sepeda, dan menaikinya. Entah kemana lagi sepeda itu akan dikayuhnya. Yang aku tahu, bayu amat kejam menyapa saat pagi dimulai. Tetapi dia tidak gentar. Baginya ini tugas dan tanggung-jawab dari profesinya. Di mana dia menjalankannya dengan tulus dan tak ada tarif khusus. Aku terkagum dan menatap penuh sejuk. Sesejuk hawa embun pagi yang tak pernah protes atas rutinitasnya. #Bersama Rasa (12 oktober @03:47 Am).
Selasa, 16 Oktober 2012
Bersama Rasa
Hari ini aku hanya punya sedikit waktu untuk sekedar menunaikan janji dan menikmati udara di luar rumah. Akhirnya, jam 1 dini hari tadi, usai menuntaskan janji, aku pulang. Melintasi jalanan Jakarta (Gatot Subroto-Kalimalang-Jatibening) . Seperti biasa, aku bersama sepeda motorku. Bercengkrama sambil menyusuri dinginnya hari. Seiring roda-roda yang terus berputar, seperti itu pula isi benakku yang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar