Selasa, 16 Oktober 2012

Aku dan Modern

Hai, modern... Aku ingin berbincang denganmu. Aku tak terlalu suka banyak basa-basi. Jadi, langsung saja ya. Pertama, Jangan membuatku menjadi tidak menyukaimu. Tahu mengapa? Sejak kau datang, aku melihat banyak orang kehilangan status pekerjaannya. Tidak percaya? Mari kita kupas bersama! Menurutmu, modern... Apa itu profesi? Apakah kamu telah membuat kriteria khusus untuk suatu pekerjaan agar bis
a dibilang sebagai profesi? Jika ya, apa saja syarat khusus itu? Jika tidak, lalu mengapa para kuncen, tukang becak, penjaga makam, pekerja serabutan, ibu/bapak rumah tangga dan masih banyak lagi, pada faktanya saat ini, di mata masyarakat modern menjadi semacam tidak memiliki profesi. Bukankah jelas, mereka memiliki profesi? "Profesi" itu bukan hanya milik dia yang seorang dokter, guru, dosen, direktur bank, penghulu, pengacara, dan sebagainya. Kedua, Apakah kedatanganmu modern, mengharuskan untuk menghapus tradisi dan adat yang kami punya, di mana itu terlihat kuno, norak dan tertinggal? Karena, aku pernah menyaksikan tayangan televisi tentang program kehidupan masyarakat pedalaman. Lalu dari suku itu yang perempuan belum menggunakan baju sehingga payudaranya di sensor. Kukira ini sangat aneh. Bukankah itu memang keadaan yang sesungguhnya? Mengapa harus dipandang sebagai sesuatu yang harus disamarkan? Padahal, ini bukan soal aurat, asusila, dan gambar tak layak. Tetapi ini adalah kita, nusantara yang sangat unik dan beraneka ragam. Apakah mereka pada akhirnya harus menggunakan baju semua seperti kita dan celana bagi laki-laki sebagai pengganti koteka? Baru bisa muncul utuh di televisi. Kalau begitu, tradisi dan budaya apa yang nantinya akan kita kenal? Kalau semua harus digerus olehmu, modern? Semoga kamu bisa menjawab pertanyaanku. (8 Oktober 2012; 02:58 Am)

0 komentar:

Posting Komentar