Selasa, 16 Oktober 2012

Facebook dan Aku

Siapapun berhak memaknai facebook sebagai apa saja. Bagiku, facebook sebagai:

1. media terapi; karena selama ini (semasa kuliah) di saat saya harus berjuang membuat makalah sebagai tugas dari mata kuliah apapun, saya berhadapan dengan kondisi yang tidak mudah. Setiap malam, saya mengalami pertengkaran fisik yang terjadi hingga fajar tiba, hampir setiap hari. Ditengah situasi itu saya juga ditunt
ut untuk menulis tugas kuliah. Tak pelak, saya mengalami trauma berkepanjangan. Hingga saya benar-benar takut menyentuh tuts keyboard. Perlahan, saya memutuskan facebook menjadi alat bantu menetralkan ketakutan yang selama ini menghantui. Dengan cara memberanikan diri menulis status-status pendek yang tidak jelas, sampai status panjang yang mungkin juga masih tidak jelas (haha)....

2. media curhat; terserah apa yang orang bilang. saya tidak ambil pusing saat mereka mengomentari apa yang saya curahkan difacebook. Tetapi jika ada saran, saya pertimbangkan dan jika ada kritikpun sama. Namun, saya harus tetap sebagai saya. tidak boleh menenggelamkan diri menjadi mereka.

3. media belajar menulis; karena belakangan menerima patah hati (haha) dan beberapa kali juga, orang-orang itu menolak dengan alasan yang sama, belum selesai kuliah-lah dan tidak punya karya. Intinya, belajar menulis karena sakit hati. Tetapi tidak lama (cuma perlu waktu 1 minggu), saya sudah merasa sakit hati tidak penting dan itu terjadi disebabkan tiap luka-hati terjadi selalu saya tuangkan satu kata yang mewakili perasaan di atas secarik kertas (yang setelah itu, diremas-remas dan dibuang ke tempat sampah) hanya untuk membagi agar terasa ringan. Sekarang beralih ke facebook. Paling tidak, saya masih dapat menjumpai ungkapan yang telah saya buang (diposting) karena tukang sampah tidak tiap hari datang (tidak seperti di rumah saya,haha).

4. media menuangkan ide; ide bagus tidak hanya bertamu kepada orang-orang hebat dan terdidik. Siapapun disambanginya. Ide itu seringkali datang saat orang tak berniat menunggu kehadirannya. Dia agak kurang ajar, memang (haha). Karena suka datang di saat kita sedang di toilet, lagi ngobrol, lagi sakit kepala, lagi menyetir kendaraan, lagi mikir hal yang lain. Kalau tidak buru-buru ditangkap, dia raib. Bahkan tak sedikitpun saya bisa melacak jejaknya.





16 Oktober 2012 


13:15pm

0 komentar:

Posting Komentar