Senin, 17 Desember 2012

Toleransi Bersama Ihsan Ali-Fauzi


(Menyimak video wawancara yang dilakukan oleh Saidiman Ahmad tentang toleransi dengan narasumber Ihsan Ali-Fauzi, mengingat saya suka dengan isi wawancara singkat namun padat ini, maka saya mencoba untuk menulisnya dengan apa yang saya pahami dari isi video tersebut)

TOLERANSI 
Ihsan Ali-Fauzi

Apa yang dimaksud dengan toleransi, lalu apa pentingnnya?

Toleransi berakar dari kata tolerare (Yunani) yang memiliki arti menanggung atau memikul beban. Sesuatu yang dirasakan membebani, dapat berupa beban fisik, psikis, atau gangguan lingkungan. Begini, Tuhan telah mencipatakan manusia berbeda-beda. Maka dampak dari perbedaan itu adalah kadang-kadang timbul rasa ketidaksukaan kita terhadap orang lain. Tidak selalu suka dengan pihak lain bukan hanya mengenai agama saja tetapi bisa jadi berkaitan dengan hobby, etnis, dll. Agar hidup damai, mau tidak-mau, suka tidak-suka, kita harus menenggang-rasa sekalipun benar-benar tidak suka dengan orang itu. Namun kita harus tetap menerima kehadirannya. Memang ada semacam beban tertentu yang kita tanggung. Dengan demikian, hal yang sama juga kita minta dari orang lain terhadap kita. Orang lain juga belum tentu senang kepada kita. Disini ada unsur saling berbagi beban untuk dipikul bersama dengan tujuan supaya bisa hidup bersama secara damai dan aman. Miniman begitulah toleransi. Toleransi semacam itu kita kenal dengan sebutan “toleransi cuek” atau toleransi negatif. Sedangkan toleransi positif adalah memahami bahwa kita berbeda tetapi kita mengusahakan untuk mengambil yang terbaik dari pihak lain seperti halnya pihak lain juga mengambil apa yang paling baik dari kita. Sehingga kita bisa saling berbagi dan memperkaya.

Nah, mengapa toleransi menjadi penting?  Lagi-lagi seperti yang  sudah diutarakan di atas, karena Tuhan telah menciptakan kita berbeda-beda, bukan hanya terkait  soal agama, tetapi bahasa, negara, dan bahkan selera. Contohnya selera makan, kamu suka sayur asam dan saya suka makan rendang. Kalau kita mau makan bersama, ya kita harus pilih, sesekali kita saling bergantian mencoba makanan itu. Dalam bertoleransi yang paling baik adalah kita melupakan atau tidak mencontoh apa yang buruk dari orang lain dan mengambil apa yang paling baik dari orang lain.

Kemudian prinsip dasar dari semua itu adalah apa yang disebut dengan “golden principle” atau prinsip emas. Yaitu prinsip dasar dalam hubungan antar sesama manusia, yang kira-kira berbunyi seperti ini, “jangan berbuat sesuatu yang kamu sendiri tidak ingin orang lain melakukannya terhadap kamu.” Sebagaimana ada haditsnya, bahwa perlakukan tetanggamu seperti halnya kamu memperlakukan dirimu sendiri. Kebaikan semacam itu ada dalam semua agama, Jika kita mau merujuk kepada agama dan tradisi. Itu semua dimaksudkan agar kita bisa hidup damai bersama. Tentunya tanpa mengurangi apa yang kita percayai dan apa yang kita yakini sebagai orang yang beriman.  

Apakah untuk hidup seperti itu kita harus benar-benar menghilangkan kebencian dalam diri terhadap orang lain dan apakah kebencian itu bukan sesuatu yang natural dalam diri kita?

Hal itu ada dalam pikiran kita, misalnya saya punya pandangan tersendiri sejak saya lahir. Sebagai contoh, tentang orang Betawi. Bahwa orang betawi itu, sebut saja malas. Kemudian saya sebagai orang pendatang dari Makassar yang umumnya bekerja lebih keras. Jadi saya punya stereotipe tertentu mengenai orang Betawi. Sebut saja bahwa streoptipe itu betul adanya. Kamu tidak bisa membunuhnya. Kamu hanya perlu mentoleransi itu, artinya kamu menanggung beban bahwa ada orang Betawi yang kemudian menjadi tetangga atau teman kamu.

Pandangan bahwa saya tidak suka dengan orang itu. Tidak bisa dihilangkan. Mungkin bisa saja berubah melalui pergaulan dan sebagainya. Tetapi kalaupun orang itu kegemarannya makan sayur asam dan saya makan rendang (seperti contoh yang tadi), itu tidak bisa diubah. Sama halnya dengan begini pendapat saya dan begitu demikian pendapat kamu, ya sudah asalkan tidak saling bunuh satu sama lain. Sesekali kamu membuat rendang dan saya membuat sayur asam. Sehingga sama-sama baik. Aktivitas saling disitu tidak memerlukan kamu untuk mengubah pikiranmu mengenai seseorang. Itu juga tidak mengharuskan kamu untuk misalnya mengubah agama dan keyakinanmu. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu kepada orang lain. Kita tidak bisa mengontrol apa isi kepala dan isi hati orang lain. Bisa saja memaksakan satu kelompok agama tertentu untuk bertobat dan meninggalkan ajaran agamanya yang lama, sebut saja Ahmadiyah, dan lain-lain. Tetapi, kita tidak bisa tahu persis bahwa apakah pikiran dan hatinya mereka berubah. Kita tahu, dalam tradisi Islam ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa dulu Nabi Muhammad ingin sekali pamannya (Abu Thalib) yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib agar masuk Islam, karena dia orang yang sangat baik, dia yang merawat Nabi Muhammad saat masih kecil. Kita tahu dari sejarah Islam juga bahwa Abu Thalib wafat sebelum dia menyatakan syahadat (sebagai seorang muslim).  Nabi Muhammad menyesal sekali, tetapi kita tahu kemudian Allah menyatakan dalam al-quran, surat 28 (al-Qashash) ayat 56:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk (hidayah) kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (hidayah).”

Jadi, kita tidak bisa memaksakan pikiran dan keyakinan kita kepada orang lain. Apalagi memaksakannya dengan kekerasan atau dengan senjata, misalkan untuk bertobat. Kalaupun orang lain itu mengikuti apa yang kita inginkan, jangan-jangan dia hanya berpura-pura sebenarnya. Padahal, siapa yang bisa tahu betul isi pikiran dan hatinya? Lagi pula, seandainya itu terjadi, kamu sedang melecehkan dirimu sendiri. Atau mungkin juga dilecehkan lantaran sudah memaksakan sesuatu yang kita tidak bisa paksakan kepada orang lain.

Yang kedua, kita tahu kalau saya seorang muslim, saya percaya sekali bahwa pada akhirnya orang bisa dimintai pertanggungjawabannya jika dia diberikan pilihan. Bagaimana kamu bisa meminta pertanggungjawaban seseorang jika dia tidak diberikan pilihan untuk melakukan A, B atau C? Jadi tanggungjawab itu hanya bisa datang bersamaan dengan tersedianya pilihan. Dan itu persoalan pribadi. Tidak bisa kita saling memaksakan. Itu inti dari toleransi, saya kira. 

(13 Desember 2012 pukul 18:30) 

0 komentar:

Posting Komentar