Minggu, 07 April 2013

Vita dan Kekonyolan di Masa Kecil


Aku? Ya gak serius-serius amat. Ada kalanya aku konyol dan mungkin cenderung tolol. Sampai sekarang. Mau bukti? Baiklah itu artinya kita akan jalan-jalan dalam lompatan mesin waktu, dimana lagi yang bisa begitu, kalau bukan si kantong ajaib "kata-kata" yang bisa bawa kita melintasi masa sekarang dan masa lalu, bahkan masa depan.

Sejak kecil aku sudah nakal dan selalu punya imajinasi yang macam-macam. Tapi gak bisa semua itu aku ceritakan di sini. Sekalipun aku sudah alhi dalam mengetik. Buktinya, Teknik sepuluh jari saja, sudah lewat. Aku mengetik menggunakan teknik sebelah jari. Jadi... Telunjukku bisa dibawa ke UGD nanti. Itu kenapa gak bisa semuanya. Oiya, balik lagi ke cerita.

Begini, sejak kelas 2 MI (Madrasah Ibtidaiyah, jenjang pendidikan setingkat SD) aku sudah membentuk geng. Isinya 5 orang. Tapi persis personil boys and girls band sekarang, yaitu hobby bongkar pasang personil. Pada akhirnya tinggal 4 orang. Jangan tanya dulu apa nama geng kami. Karena ada filosofi dari nama itu nanti. Lebih baik aku perkenalkan dulu nama mereka. Mereka adalah:
1- Ipah (Muzdalifah),
2- Maya (Maya Sari),
3- Vita (Tri Novita Sari),
4- Ita (Rosita), dan
5- Kristina (Nama panggilannya gak mau disingkat jadi Titin). Itulah kami, 5 anak SD yang super duper tengil.

Kami punya ciri khas dan kelebihan masing-masing. Ipah pandai masak dan mengaji, karena ibunya guru ngaji. Paling punya banyak teman kenalan. Orangnya loyal, bisa diuji kesetiakawanannya. Kelebihannya adalah cara pakai kerudungnya yang menurutku ribet. Tidak praktis, setidak praktis tubuhnya saat diajak berlari. Karena berbobot dan montok. Maya, cantik dan mungil jago menyanyi, trendi, juga fasih dalam urusan beres-beres rumah. Pada masanya dia idola. kelebihannya dia tidak begitu jago dalam urusan materi pelajaran. Vita, hobby duel dengan laki-laki tengil. Kalau ada yang paling hitam kulitnya diantara kami, itu aku. Kalau pakai baju paling pas padu-padan warnanya. Dari kecil aku merasa punya selera. Suka berbusana ala artis ditambah topi pantai yang lebar. Karena pernah punya impian jadi seniman dan super star. Tapi mana ada super star yang sering bisulan. Ya, dulu sering digerayangi bisul di banyak bagian termasuk kepala, pastilah punya pitak. Kelebihannya, boleh sombong dikit ya? Meski pulang sekolah selalu dengan rok hijau panjang yang robek hingga paha. Dia bintang kelas berturut-turut hingga jenjang pendidikan berikutnya. Maaf ya agak narsis. Oiya, ciri khasnya itu ya... rok sekolahnya yang selalu ditambal dengan sederet peniti (bayangin aja, dari mata kaki hingga paha isinya deretan peniti) karena belum bisa jahit dan takut dimarahi ibu lantaran tiap hari selalu terulang peristiwa yang sama. Ita, murid baru di kelas 2. Tadinya musuhku karena dia menjadi lebih akrab dengan Maya, yang notabene-nya teman paling dekat diantara yang lain. Aku cemburu ceritanya. Tapi Ita baik atau bisa ambil hatiku, aku gak tahu. Yang pasti punya semangat belajar dan piinter juga. Jadi merasa punya rival yang setara sekaligus teman yang asik. Kelebihannya, boddynya paling slim kira-kira modelnya seperti boddy I-pod Touch. Ringan sekali. Tapi tetap manis. Kristina, gak banyak kisah yang kuingan tentang dia selain berasal dari suku Jawa dan cantik. Selebihnya ingatanku hilang bersama pindahnya dia ke kota lain. Entah bagaimana dia sekarang. Itu mengapa pada akhirnya kami hanya 4 orang.

Sudah cukup ya gambaran dan posisi aku diantara teman-temanku. Agak sedikit otoriter juga dalam geng. Berasa punya power diantara mereka. Untung teman-teman bersedia merelakan dirinya jadi follower. Jijik banget kalau kuingat-ingat lagi.

Satu hari aku pengin gaya-gayaan punya nama kelompok yang keren. Malas juga kalau harus sebut nama kami satu-satu buat perkenalan waktu siap berkelahi dengan geng laki-laki di lapangan yang masih berbentuk kebun dengan pepohonan besar. Letaknya gak jauh dari sekolah. Mulai memikirkan nama yang pas. Kira-kira apa ya? Di saat yang sama, geng-ku datang ke rumah sekedar ingin mengajakku bermain bersama, pasalnya hari itu adalah hari Minggu. Saatnya kami berkumpul. Iseng punya usul, kami bermain di latar sekolah. Tahu tidak, latar sekolah itu adalah samping rumahku. Sekedar info, karena sekolah letaknya di depan mata, jika waktu pulang sekolah tiba, aku muter-muter dulu, jalan kearah yang nantinya tembus di samping rumahku lagi. Saat itu, tidak asik dan tidak ada seninya jika keluar pintu kelas, jalan sepuluh langkah sudah di rumah. Jadi kebiasaan muter-muter bukan hal baru bagiku, sudah ada sejarahnya sejak dulu.

Oke, kita kembali ke hari Minggu di saat kami bermain dan berpikir sebuah nama geng. Di halaman belakang sekolah, kami duduk tanpa alas. Pas di atas tanah. Kotor bukan masalah. Persis iklan deterjen di TV dan majalah. Kami pusing bukan kepalang. Seolah memikirkan satu situasi negara yang kebingungan tanpa nama.

Tik-tok tik-tok tik-tok...

Tak ada suara riuh kegembiraan. Bacot kami tertelan waktu dan pemandangan. Hingga terdengar suara air mengalir malu-malu. "Apa itu? Dari mana air itu mengalir? Di sini kan gak ada keran air!" Air itulah yang mengembalikan suara-suara kami. "Coba gali yuk! Siapa tahu itu mata air. Kita bisa kaya dan terkenal karena jadi penemu pertama kali." Kalimat itu yang masih kuingat. Kami mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk menggali. Berhasil! "Wah airnya semakin banyak!" kata salah satu dari kami. "Kita harus kasih nama mata air ini! apa ya?" Teman-temanku bersemangat. "Gimana kalau nama mata air ini diambil dari huruf awal nama panggilan kita?" Ide itu hampir sama, terlintas di pikiran kami masing-masing. Kami mengangguk tanda setuju. Alhasil, "IMVI" (Ipah-Maya-Vita-Ita) dipilih jadi nama mata air yang kami temukan. "Yey!" Sorak-sorai bergetar di bibir kami.

"Sorak-sorak bergembira, bergembira semua." Semangatnya kira-kira seperti ruh di lagu itu. Kami bergembira dan bersorak. Menjadi penemu mata air "IMVI". Sekaligus menjadi nama resmi geng kami. Kami berdiri bergenggaman tangan mengelilingi air itu. Berputar-putar. Tapi tiba-tiba putaran itu terhenti karena ada penyelinap yang datang. Pandangan kami semua tertuju pada orang itu. Sambil ingat baik-baik untuk tetap komit supaya tidak memberitahu tentang air kepada siapapun dulu, selain geng IMVI. Takut diakui oleh pihak lain. Kami merapat menutupi mata air IMVI dari pandangan sang penyelinap. "Heh bocah ledok! Lagi ngapain lu di situ?" Kata penyelinap itu yang tak lain adalah nenekku. Dia menggenggam sapu lidi yang sepertinya siap dilemparkan kepada kami. "Gak ngapa-ngapain." Balas kami. Nenek clingak-clinguk mau tahu apa yang kami sembunyikan. Rupanya mata air itu terus mengalir deras hingga semakin jelas kucurannya terlihat. Padahal sudah kami tutup tanah lagi. Kalian tahu apa yang terjadi. Kami benar-benar dilempar sapu lidi berkali-kali, tapi tidak ada yang kena. Kami sudah pasang kuda-kuda untuk kabur ketika mendengar nenek berkata:

"Ya Allah, bocah... Pantesan dari tadi gua nyuci piring airnya kering. Paralon habis dibenerin (karena sempat patah) malah digali-gali."

Kabuuuuur....

Akhirnya menjadi kaya dan terkenal serta bahagia hanya impian. Impian yang sekarang, saat kami telah beranjak dewasa menjadi masalah bagi kami masing-masing. Tapi paling tidak kami punya nama geng yang bersejarah, "IMVI".

Cerita ini aku tulis, untuk mengenang masa dimana nenekku masih bisa berjalan. Masih bisa mengajakku ke pengajian. Masih bisa membawaku berziarah dengan rombongan nenek-nenek lainnya. Juga untuk teman-teman kecilku yang tentu tak lagi kecil. Malah mereka semua sudah punya anak kecil dan keadaan jauh berubah, termasuk sebagian nama mereka:

1- Ipah: Kemudian hari lebih suka bernama "Sifa" Maulana Prasetyo. (Prasetyo adalah bagian belakang nama suaminya).

2-Maya: Gak pernah berniat untuk menambah nama "Bakti" di akhir nama lengkapnya, meski nama "Maya Sari Bakti" lebih beken daripada sekedar Maya Sari, tapi itu bukannya nama bus, ya. Oiaya, dulu aku sempat kembali satu sekolah lagi dengannya di MTS N (Madrasah Tsanawiyah Negeri, jenjang pendidikan setara dengan SMP/SLTP) yang sama, dan dia lebih dikenal dengan nama "Joya atau Joy" (Tapi itu bukan nama belakang suaminya).

3- Vita: Cuma suka dengan kata "Vita" saja dari nama lengkapnya. Ada 2 pilihan nama yang akhirnya aku buat sendiri karena suka, yaitu Vita Balqis dan Vita Gayatri. Nama Vita Balqis kadung populer ketimbang yang satunya lagi. Gara-gara tercetak pada kartu nama saat menjadi Sales Marketing di sebuah perusahaan Mobil Jepang. (Tapi, Balqis atau Gayatri bukan nama belakang dari suaminya ya, hahaha).

4- Ita: Nama lengkapnya Rosita. Sekarang lebih terkenal dengan Ita Qolita. Qolita bukan nama belakang suaminya. Qolita adalah paduan nama Qoli dan Ita. Nah, Qoli itu baru nama suaminya.

-Semoga kita semua bahagia, sebahagia masa kecil yang belum mengerti apa itu masalah.-

0 komentar:

Posting Komentar