Selasa, 23 April 2013

Fragmen cinta Senja

1. Aku adalah rumah bagi diriku sendiri. Namun tidak untuk kini. Aku tersesat di rumahmu. Hingga pikirku tak mengerti jalan pulang. Isyarat aku jatuh cinta.


2. Benarlah adanya. Rumah berpenghuni lebih nyaman dirasa ketimbang rumah kosong. Hati-hati, jangan terlena dengan nuansa teduhnya. Jika kau sadar, bahwasannya kau hanya diperkenankan singgah. Tidak menetap. Tidak pula memiliki. Segeralah melakukan manuver.


3. Kau sudah mencuri waktu, sekarang kau sedang menjalani persidangan diri. Kau adalah hakim bagi dirimu sendiri. Adil-lah! Jadi, apa kau masih memilih untuk tetap tersesat di rumah itu?


4. "Biarkan aku pulang, sayang! Bisakah kau merelakan jalan hati untukku? Bagaimana aku bisa berlalu, jika air matamu merantai erat langkahku."


5. Tiada yang salah dari perjumpaan dan cinta. Jika kita terus berusaha mencari bukti kesalahan mereka, itu pekerjaan yang paling sia-sia. Mereka adalah anugerah. Ya, anugerah yang agak kurang ajar. Sebab datang dan pergi tak mengenal waktu dan kondisi.


6. "Sayang... 
Aku ini hanya musyafir. Kebetulan sejak kemarin menumpangi kapal kasihmu. Mungkin aku akan mengakhiri perjalananku di lautan lepas. Mohon jangan sekalipun bertanya kapan atau bahkan, bisakah aku kembali! Aku tak kuasa berjanji. Kecuali bila badai menerjang. Kemudian menghempaskan kau dan aku di satu ujung pulau yang sama, yaitu takdir."

-Dari Senja, untuk Rumah Petualang-

0 komentar:

Posting Komentar