Muter-muter dengan skuter mencarinya di beberapa tempat, "Demi Ucok"! Tidak juga didapatkan, hujan di sana-sini, dingin dan sedikit genangan air di ruas jalan. Sengsara, memang. Tetapi aku senang. Karena "sengsara" yang dimaksud itu adalah "Les Miserable".
Les Miserable, film yang tadi sore aku pilih sebagai pengganti Demi Ucok yang tidak kudapatkan di beberapa bioskop yang aku datangi. Memuaskan hasrat petangku.
Di beberapa menit pertama aku sempat jenuh. Film ini dikemas dengan dialog yang berirama. Namun sirna dan terbayar saat cerita Jean Valjean dimulai. Dia seorang tahanan yang dihukum kurang-lebih 19 tahun karena telah mencuri sepotong roti untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Banyak konflik yang terjadi tidak hanya kepada orang lain tetapi dengan dirinya sendiripun ada peristiwa yang luar biasa mengenai kejujuran diri dan keadilan. Banyak tokoh di sini. Ada Jevert, seorang polisi yang terus memburu Jean Valjean sekalipun keadaan sudah berubah, dia terlalu kaku dalam menegakan hukum, cenderung oportunis. Ada Cosette -putri dari seorang buruh yang dipecat. Kemudian menjadi korban kejam dan kerasnya kehidupan di Prancis pada abad ke-19. Buruh itu bernama Fantine-, anak angkat Jean Valjean. Ada Marius, dll.
Banyak pelajaran di film ini yang aku dapatkan berdasarkan interpretasi aku pribadi.
Les Miserable, film yang tadi sore aku pilih sebagai pengganti Demi Ucok yang tidak kudapatkan di beberapa bioskop yang aku datangi. Memuaskan hasrat petangku.
Di beberapa menit pertama aku sempat jenuh. Film ini dikemas dengan dialog yang berirama. Namun sirna dan terbayar saat cerita Jean Valjean dimulai. Dia seorang tahanan yang dihukum kurang-lebih 19 tahun karena telah mencuri sepotong roti untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Banyak konflik yang terjadi tidak hanya kepada orang lain tetapi dengan dirinya sendiripun ada peristiwa yang luar biasa mengenai kejujuran diri dan keadilan. Banyak tokoh di sini. Ada Jevert, seorang polisi yang terus memburu Jean Valjean sekalipun keadaan sudah berubah, dia terlalu kaku dalam menegakan hukum, cenderung oportunis. Ada Cosette -putri dari seorang buruh yang dipecat. Kemudian menjadi korban kejam dan kerasnya kehidupan di Prancis pada abad ke-19. Buruh itu bernama Fantine-, anak angkat Jean Valjean. Ada Marius, dll.
Banyak pelajaran di film ini yang aku dapatkan berdasarkan interpretasi aku pribadi.
Point yang bisa kudapatkan dari film Les Miserables berdasarkan interpretasiku:
1. Mengenai keadilan
Sosok Javert (polisi di film itu) membuatku menafsirkan bahwa seperti inilah robot hukum yang hanya bisa mejalankannya, bukan manusia yang mampu memahami hukum. Karena ditangannya hukum menjadi sangat kaku. Dia merasa harus menjunjung tinggi tugas dan kewajibannya untuk menghukum siapapun yang bersalah tanpa menggunakan kelebihannya sebagai manusia yang dianugerahi nurani, akal, dan hati. Akhirnya memiliki pandangan yang sempit, dimatanya hanya ada kesalahan dan hukuman. Dia kehilangan sisi humanisnya. Dia lebih mirip seorang oportunis, mengapa? Dia sendiri beberapa kali diloloskan oleh orang lain dan diberikan hak untuk hidup dan kebebasan pada saat dia di ambang kematiannya. Dia diuntungkan oleh rasa kemanusiaan tetapi dia terus saja mencederai rasa kemanusiaan itu.
Sosok Jean Valjean (pemeran utama di film itu) menginspirasi aku akan keadilan yang sungguhnya. Bagaimana keadilan diwujudkan, keadilan bukan soal pukul rata, bukan soal hukuman semata. Dia menggunakan keistimewaan seorang manusia yaitu nurani, akal, dan hati dalam melihat, menimbang, serta memutuskan perkara. Dimana keadilan harus bersifat menyeluruh bagi siapapun, tanpa terkecuali. Mereka berhak atasnya dan berhak atas perlindungan.
2. Tentang Kejujuran
Jean Valjean mengajarkan bahwa kejujuran diri amatlah penting. Itu awal dari berbuat adil. Mungkin bisa aku katakan bahwa "tiap-tiap kita adalah hakim bagi diri kita sendiri". Hanya diri sendirilah yang tahu persis apakah kita bersalah atau tidak, apakah kita jujur atau tidak, apakah kita adil atau tidak dsb. Keputusan ada di diri kita sendiri. Apakah itu berdampak merugikan orang lain atau tidak, pun juga hanya kita yang paham atas apa yg kita lakukan. Jika masih merasa sebagai manusia. Betapa mulianya "menelanjangi" diri sendiri. Dari situlah segala bermula.
3. Definisi berbuat baik
Berkali-kali Jean Valjean memberikan hak bebas dan hak untuk hidup kepada Javert yang seringkali tetap kejam kepadanya dan tetap ingin menuntutnya sebagai seorang narapidana yang harus dihukum. Hal ini-lah yang aku maksudkan dengan berbuat baik. Definisi berbuat baik bagiku adalah bersikap baik kepada orang yang bersikap buruk terhadap kita. Bersikap baik kepada orang yang kita tahu dia membenci kita, melukai, dan pernah menyakiti kita. Barulah itu disebut berbuat baik. Karena kalau kita baik terhadap orang yang juga baik kepada kita itu memang sudah seharusnya. Namun kebaikan itu haruslah bersifat lebih.
4. Cinta dan keluarga
Jean Valjean meletakan makna baru tentang siapa itu keluarga. Bicara keluarga, bukan melulu soal anak dan orangtua secara biologis. Kasih sayang keluarga tidak selalu didapatkan lantaran darah dan keturunan. Tetapi seorang anak angkat juga bisa mendapatkan kasih sayang dengan kedalaman yang sama seperti anak dari darah-daging sendiri. Mereka tiada beda.
5. Komitmen (tanggung jawab)
Komitmen dengan ketulusan selalu beriringan. Bagaimana sebuah tanggung-jawab bisa benar-benar nyata jika ketulusan sedikitpun tidak terbesit. Bisa dilihat bagaimana Jean Valjean bersedia menunaikan janji dan tugasnya sebagai walikota yang seharusnya bisa melindungi masyarakatnya. Tetapi saat Fantine, seorang buruh yang tak sempat didengarkan keluhannya, dipecat dan kemudian terpuruk, sebelum mati meminta agar anaknya didatangkan. Lalu Jean Valjean tak hanya mencoba mencari anak Fantine (Cosette) tetapi juga merawatnya hingga dewasa seperti anak sendiri. Sebuah tanggung-jawab besar dengan ketulusan yang besar pula.
6. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Kesalahan pada masa lalu bukanlah titik pemberhentian selamanya. Karena manusia itu dinamis maka besar kemungkinan dia terus berubah. Terus berjalan dari satu halte ke halte berikutnya sampai pada tujuannya kelak. Biarlah dari proses perjalanan itu dia menemukan dirinya.
#Kayaknya segitu dulu aja deh, aku sudah mulai mengantuk#
1. Mengenai keadilan
Sosok Javert (polisi di film itu) membuatku menafsirkan bahwa seperti inilah robot hukum yang hanya bisa mejalankannya, bukan manusia yang mampu memahami hukum. Karena ditangannya hukum menjadi sangat kaku. Dia merasa harus menjunjung tinggi tugas dan kewajibannya untuk menghukum siapapun yang bersalah tanpa menggunakan kelebihannya sebagai manusia yang dianugerahi nurani, akal, dan hati. Akhirnya memiliki pandangan yang sempit, dimatanya hanya ada kesalahan dan hukuman. Dia kehilangan sisi humanisnya. Dia lebih mirip seorang oportunis, mengapa? Dia sendiri beberapa kali diloloskan oleh orang lain dan diberikan hak untuk hidup dan kebebasan pada saat dia di ambang kematiannya. Dia diuntungkan oleh rasa kemanusiaan tetapi dia terus saja mencederai rasa kemanusiaan itu.
Sosok Jean Valjean (pemeran utama di film itu) menginspirasi aku akan keadilan yang sungguhnya. Bagaimana keadilan diwujudkan, keadilan bukan soal pukul rata, bukan soal hukuman semata. Dia menggunakan keistimewaan seorang manusia yaitu nurani, akal, dan hati dalam melihat, menimbang, serta memutuskan perkara. Dimana keadilan harus bersifat menyeluruh bagi siapapun, tanpa terkecuali. Mereka berhak atasnya dan berhak atas perlindungan.
2. Tentang Kejujuran
Jean Valjean mengajarkan bahwa kejujuran diri amatlah penting. Itu awal dari berbuat adil. Mungkin bisa aku katakan bahwa "tiap-tiap kita adalah hakim bagi diri kita sendiri". Hanya diri sendirilah yang tahu persis apakah kita bersalah atau tidak, apakah kita jujur atau tidak, apakah kita adil atau tidak dsb. Keputusan ada di diri kita sendiri. Apakah itu berdampak merugikan orang lain atau tidak, pun juga hanya kita yang paham atas apa yg kita lakukan. Jika masih merasa sebagai manusia. Betapa mulianya "menelanjangi" diri sendiri. Dari situlah segala bermula.
3. Definisi berbuat baik
Berkali-kali Jean Valjean memberikan hak bebas dan hak untuk hidup kepada Javert yang seringkali tetap kejam kepadanya dan tetap ingin menuntutnya sebagai seorang narapidana yang harus dihukum. Hal ini-lah yang aku maksudkan dengan berbuat baik. Definisi berbuat baik bagiku adalah bersikap baik kepada orang yang bersikap buruk terhadap kita. Bersikap baik kepada orang yang kita tahu dia membenci kita, melukai, dan pernah menyakiti kita. Barulah itu disebut berbuat baik. Karena kalau kita baik terhadap orang yang juga baik kepada kita itu memang sudah seharusnya. Namun kebaikan itu haruslah bersifat lebih.
4. Cinta dan keluarga
Jean Valjean meletakan makna baru tentang siapa itu keluarga. Bicara keluarga, bukan melulu soal anak dan orangtua secara biologis. Kasih sayang keluarga tidak selalu didapatkan lantaran darah dan keturunan. Tetapi seorang anak angkat juga bisa mendapatkan kasih sayang dengan kedalaman yang sama seperti anak dari darah-daging sendiri. Mereka tiada beda.
5. Komitmen (tanggung jawab)
Komitmen dengan ketulusan selalu beriringan. Bagaimana sebuah tanggung-jawab bisa benar-benar nyata jika ketulusan sedikitpun tidak terbesit. Bisa dilihat bagaimana Jean Valjean bersedia menunaikan janji dan tugasnya sebagai walikota yang seharusnya bisa melindungi masyarakatnya. Tetapi saat Fantine, seorang buruh yang tak sempat didengarkan keluhannya, dipecat dan kemudian terpuruk, sebelum mati meminta agar anaknya didatangkan. Lalu Jean Valjean tak hanya mencoba mencari anak Fantine (Cosette) tetapi juga merawatnya hingga dewasa seperti anak sendiri. Sebuah tanggung-jawab besar dengan ketulusan yang besar pula.
6. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Kesalahan pada masa lalu bukanlah titik pemberhentian selamanya. Karena manusia itu dinamis maka besar kemungkinan dia terus berubah. Terus berjalan dari satu halte ke halte berikutnya sampai pada tujuannya kelak. Biarlah dari proses perjalanan itu dia menemukan dirinya.
#Kayaknya segitu dulu aja deh, aku sudah mulai mengantuk#
NB: Thanks Kamel sudah menemani nonton.
17 Januari 2013
0 komentar:
Posting Komentar