Minggu, 30 Desember 2012

Unek-Unek Malam, Sehari Menjelang Akhir Tahun 2012


(31 Desember 2012 pukul 0:55) 

Untuk Mr. Un-Cut

Bagaimana aku mau benar-benar bisa menerimamu kembali.
Aku sudah ogah menghakimi diriku yang salah atau dirimu yang salah.
Aku sudah malas menjumpai ngambekmu yang selalu tiba-tiba muncul semacam impuls.

Yang pasti tiap kali aku berusaha untuk memberikan kesempatan -barangkali- bisa bersama kembali dengan cara merajut moment hangat, makan bersama atau sekedar jalan menikmati malam sejenak. Selalu saja kamu merusak detik kebersamaan itu. Misalnya hari ini. Ya, memang aku yang datang mencarimu untuk menghabiskan sedikit waktu. Jika tidak sebagai pasangan dalam konteks asmara, paling tidak kita bisa berpasangan sebagai saudara yang baik. Oke, perjalanan malam ini awalnya berlangsung baik-baik saja. Sampai waktu makan malam bersama tiba. Selera makan kita boleh saja sama, tetapi selera obrolan kita jauh berbeda. Ya, obrolan ini yang kumaksud mulai menggerogoti kenyamanan yang sedang kuciptakan. Kamu mulai membicarakan benda yang sedang kupakai dan kau minta segera untuk aku mengembalikannya, sedangkan kau tahu bahwa itu belum bisa. Mangkel sekali rasanya. Aku kira kamu cari-cari masalah. Obrolan terus bergulir dan terpaksa aku harus bilang "kamu tega sekali". Dan kamu semakin menjadi-jadi. Bicaramu ngawur kemana-mana. Kamu bilang aku adalah orang  yang otaknya segudang tapi mikirnya pakai dengkul"! Sial... Nasi yang kusuap tak bisa tertelan dengan lancar. Langsung saja aku meneguk secangkir teh pandan dan langsung menuju kasir. Untuk apalagi aku kembali duduk berhadapan denganmu. Aku malu karena itu ruang publik, kurasa lumayan juga suaramu terdengar. Lumayan juga ekspresimu menampakan bahwa kita tidak baik-baik saja.

Dengan kesalku aku memutuskan meninggalkanmu saja, daripada menjadi lebih buruk dan kita berdua mungkin akan saling tak bisa menahan emosi. Aku melewatimu. Aku langsung jalan kaki pulang ke rumah. Ah, sial betul aku malam ini. Motorku sedang digunakan adikku. Aku tadi berangkat bersamanya karena memang aku yang mau. Tapi lain waktu aku tak mau pergi tanpa motor. Khawatir hal semacam ini terjadi lagi sekalipun bersama orang lain selain kamu. Kamu tahu, jalanan yang kulalui jika sudah jam 6 sore, sudah tidak ada angkot. Alhasil aku pulang jalan kaki kurang lebih 75 meter. Cantik sekali malam ini. Sudahlah... Hitung-hitung membakar lemak perutku yang serupa kulkas tiga pintu karena hobby menimbun cokelat. Meski kamu sempat mengajakku kembali naik motormu dan mungkin mengejarku, mungkin... Tetapi itu sudah hampir setengah jalan sampai di rumah. Sekali tidak, tetap tidak! Karena kau mencederai harga diriku. Biarlah aku membakar kalori dan membakar emosi dengan jalan kaki.   

Carilah perempuan lain, mungkin kau bisa menemukan kenyamanan dan kedamaian di sana. Perempuan yang kau kategori-kategorikan. Aku tidak suka. Dan berhentilah mengirim pesan singkat yang bagiku itu mengancam kedamaian mentalku -yang kau tahu- terganggu juga. Kita sama-sama punya masalah itu. Stop mencari siapa yang salah! Diantara kita tidak ada yang salah, terbukti sudah seberapa sering kita mencoba mengevaluasi diri masing-masing dan memperbaikinya. 9 tahun lebih sudah kita coba terus-menerus. Dan tidak juga beres. Itu artinya kita memang tidak cocok, sekalipun kita saling menginginkan satu sama lain. Daripada keinginan dan kepemilikan mencederai kasih yang tulus, kasih yang sama-sama ingin kita berikan, lebih baik kita balut dalam hubungan kekeluargaan saja. Ini keputusanku yang terakhir. Tidak ada lagi upaya untuk merajut mimpi kita yang ternyata memang tak berujung seperti yang diharapkan dulu di tahun 2002.

Terima kasih atas segalanya. Bagiku kamu tetaplah kamu, tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kebaikanmu selalu membuatku merasa berhutang budi seumur hidupku. Aku tahu, mungkin aku tak bisa membalasnya, tetapi akan kucoba semampuku. Mengenai keburukanmu, itu adalah kesalahan kita berdua, dan itu masa lalu yang membuat kita menjadi berpikir untuk lebih baik, bertindak lebih dewasa, dan terus punya harapan. Sekali lagi, ini bukan akhir segalanya. Namun ini adalah awal dari segalanya. Perubahan selalu saja begitu. Selalu saja ada efek kejut dan kehancuran di dalamnya, tapi yakinlah itu tidak lama dan itu akan membawa kita kepada kebaikan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Teruslah kita punya harapan bagi diri kita masing-masing. Kasihku selalu ada untukmu dalam bentuk apapun. Maaf atas segala keburukanku.        

0 komentar:

Posting Komentar