Senin, 17 Desember 2012

Perjumpaan

'Perjumpaan' itu sangat indah menurutku. Mungkin begitu juga menurut Gabriel Honor Marcel. Entahlah? 

Saat ada 'wajah' yg dikirim oleh Emmanuel Levinas kepadaku. Muncul perasaan, duka. Suka, malah terkadang 'rasa mengabur' diantara keduanya. Persis ditandai kedatangan Carl Jung dan Sigmund Freud. Perjumpaan itu berlangsung seperti ini: 

Kemarin... 

Peri itu, mendaratkan kedua kepak sayapnya. Kemudian berdiri di muka pintu kamarku. Mengetuk. Dan aku membuka. Dia bilang, "ini kado dari Tuhan untuk ulang tahunmu, beberapa hari lalu." Kuterima kado itu dg senyuman, sembari berucap "Terima Kasih". Sang peri pun pergi. 

Sebenarnya... Aku tidak terlalu bersemangat dengan kado itu. Jujur! Aku tidak pernah mengidamkannya. 

Tetapi 'kebetulan' kemasannya menarik. Tuhan membungkusnya dg warna hijau, biru, abu-abu, dan merah. 'Kebetulan' seperti warna-warna duniaku. Motif bungkusnya 'abstrak', aku suka. Tertariklah aku! 

Segera aku buka kado itu. Dan isinya adalah sebuah 'cermin'. Berpikir... Apa istimewanya cermin ini? Paling-paling, aku hanya meras seperti sang putri yang sedang menghias diri. 

Biasa saja! 

Aku pertemukan 'cermin' itu dengan 'wajah'ku. 

Wow!!! 
Mengejutkan! 
Saat 'perjumpaan' terjadi antara mataku, cermin, dan mata cermin yg serupa dg mataku. 

Menyeruak serangkaian perjalanan. Menembus lorong waktu. 
Membebas ruang. 
Kasih penuh kisah dan kisah penuh kisah. 

Indah! 
Hendak mengibaskan tawa selalu. Hingga cermin pun retak dan tepinya yang runcing menggores. Sedikit... 

Goresnya, tidak membuat aku merasa dilukai. Lalu mengapa nafas tersendak, butiran air mata terjatuh, hingga lisan terasa kelu? 

Terpaku! 

Dan setelah itu, barulah aku tahu. Tepi cermin menggores tepat. Tepat di luka lalu. 

Uniknya, aku kembali mampu tersenyum. Seusainya. 

Kembang senyum itu mengartikan bahwa aku sedang berdiri di lempengan kesadaran penuh. Segera pudarkan luka itu. Pelan-pelan! 

Tidak untuk dihilangkan, memang. Namun juga, bukan untuk selalu dipeluk sebagai kenangan penuh harap... 

Mungkin sebaiknya dimengerti... Kapan luka menjadi duka dan kapan luka mesti menjadi suka. 

Hah!!! Aku lapang rasanya. 

Terima kasih Tuhan atas kirimannya. Cermin memang tepat sebagai 'media' untuk kita berkomunikasi dengan diri. Dan setelah ini semua. Aku mengerti... 

Semua kisah akan berakhir dalam kebahagiaan. Sekalipun itu sebuah kesedihan. Hargai apapun yang datang, relakan apapun yang terbuang dan menghilang. 

Tersenyumlah! 

14 Mei 2012 pukul 18:43 

0 komentar:

Posting Komentar