Saking terjalnya perjalanan. Selama ini aku selalu bicara dengan menggunakan pikiran. Tidak pernah mengerti bagaimana bicara dengan menggunakan hati. Dan rabu malam (30.01.2013) untuk pertama kalinya aku mendengarkan apa yang dikatakan orang lain dengan hati. Sungguh! Itu benar-benar sampai ke hatiku. Entah mengapa, sepertinya kuping terbuka lebar, dan semuanya kedengar mengalir. Tidak kering.
Pertemuanku dengan orang asing itu, dia lelaki yang mengkritkku. Dan aku terima. Sebagaimana kukatakan kepadanya diawal saat dia menantang kesiapanku untuk mendengarkan apa yang akan dia utarakan mengenai aku. Dengan penuh tanda tanya, aku menjawabnya, "aku siap untuk dikritik, silakan! Jangan buat aku penasaran. Namun sebelumnya aku minta maaf karena aku tidak menyukai caramu memulai perkenalan." Karena saat itu aku bersama saudaraku sedang mencari kopi di sebuah tempat. Aku katakan permohonan maaf atas kejujuranku. Aku hanyalah seorang yang tak terlalu menyukai banyak basa-basi yang membuat diriku tidak nyaman. Sekali lagi, aku tidak menyukai lelaki genit. Mengingat saat itu sikap dan gerak-geriknya sengaja mengundang perhatian kami dan siapapun yang disampingnya. Dengan santun, berbeda dari sebelumnya, dia berkata "sikap menyatakan permohonan maaf secara langsung disertai kejujuran itu merupakan hal yang sulit dan kamu melakukannya. Saya senang."
Bagaimana tidak! Sejak awal gerak tubuhnya sudah terbaca olehku bahwa dia akan masuk dalam perbincangan kami. Terlintas dalam benakku, paling-paling lelaki itu melihat saudaraku yang memang cantik dan biasalah memulai perkenalan dengan banyak modus. Salah satunya, dia memulai dengan meminta saudaraku untuk memperlihatkan telapak tangannya. Kemudian membacakan sejumlah persoalan hidup, karakter, penyakit, pengalaman masa lalu, dsb. Ketika saudaraku menunjukan antusiasnya mendengarkan penjelasan lelaki itu. Sungguh! Aku tidak tertarik. Aku benar-benar tidak kagum sekalipun ternyata benar menurut pengakuan saudaraku, apa yang diutarakan lelaki itu hampir tepat semua. Dalam hatiku menjawab, "ya... kan baru hampir. Belum semuanya benar. Siapapun bisa begitu. Di luar sana banyak sekali orang semacam lelaki itu yang mampu memprediksi tentang seseorang. Itu biasa. Mau dibilang apa sih lelaki itu? Mau dibilang sakti, keramat, pintar, atau hebat? Ah... Biarlah, itu bukan urusanku. Tugasku hanya senyum sesekali saat kita beradu pandang waktu bicara. Sudah!"
Sampai pada gilirannya...
Dia duduk di hadapan kami. Dari saudaraku yang selesai menjadi objek bualnnya dia beralih fokus menuju seorang perempuan berkaos putih dengan jaket dan celana pendeknya. Ya, perempuan itu adalah aku. Dia meminta aku menjulurkan lidahku. Dan dia membaca sebuah penyakit yang dulu awalnya kuderita sejak kecil. Baru belakangan ini memang muncul kembali. Rasanya aku mau tertawa, konyol. Aku mau saja ikut permintaannya untuk menjulurkan lidah. Tapi... Okelah, tebakan itu benar. Anggap saja kebetulan. Mungkin dia tabib atau sejenisnya. Sarannya olahraga renang bisa menjadi salah satu solusi. Hah! Renang? Aku tidak bisa renang. Aku takut sekali kedalaman. "Mulai saat ini belajarlah! Pasti bisa!" Katanya.
Dia mulai menyinggung soal sekolah dan tujuan. Entah bagaimana, topik sekolah dan 4 hal yang dia bilang tujuan itu, nyentil sekali. Seakan dia tahu apa yang menjadi niat dan motivasiku untuk sekolah. Aku rasa tidak semua orang memiliki alasan yang sama denganku untuk hal ini, kalaupun ada mungkin dari 4 point ada 1 atau 2 yang berbeda. Tapi ya... aku masih cuek terhadap bualannya dan mengandalkan kekuatan pikiranku untuk menganalisa apakah dia layak didengar atau tidak. Ah, lalu perkataan selanjutnya, seolah dia tahu betul kalau apa yang dia utarakan secara jitu tadi, aku tolak mentah-mentah dalam benak. Derrr! Oke, sedikit mulai menarik perhatianku. Aku masih meremehkannya, sedikit.
Dan dia terus berkata, mengungkap suatu persoalan dengan kisah dan caranya tersendiri. Aku menangkapnya. Lagi-lagi, itu seperti mengarah kepadaku. Ah aku pikir, itu karena... mungkin, terlalu sensitif saja perasaanku. Semua orang bisa saja berkisah apapun yang kebetulan persis dengan kehidupan kita. Aku masih diam. Dia terus melanjutkan maksud pembicaraannya.
Sampai pada satu pernyataan... Dan aku tercengang. Hanya bisa tersenyum sebagaimana biasanya. Dia berbicara benar adanya tanpa bersembunyi dibalik peristiwa lain sebagai perumpamaan.
Tatap matanya tegas kepadaku.
......
"Kamu unik! Berani tetap mengembangkan layar saat badai dan itu yang akan membawamu sampai pada tujuan, bukan nahkodanya." Entah apa maksudnya, aku mulai menafsirkannya belakangan. Lanjut kudengarkan dia bicara. Sampai dia tahu beberapa tanda yang ada dibagian tubuhku persis berapa jari dari mana-kemana jaraknya. Tanda itu jelas tak terlihat dari luar. Bagaimana bisa? Ada satu tanda, aku yakin tidak ada yang tahu sekalipun orangtuaku, karena itu muncul belakangan, harusnya hanya aku yang tahu. Dan dia tepat menjelaskan keberadaannya. Aku mulai agak kesulitan untuk menelan ludah.
Dia melanjutkan omongannya...
Kemudian dia berkata, "ini pertama kalinya kamu mendengarkan seseorang dengan menggunakan hatimu. Selama ini kamu hanya berbicara dengan menggunakan pikiranmu saja. Begitupun dalam mendengarkan. Tidak heran kalau mereka tidak mengerti dirimu. Kamu selalu 'merasa sendiri' sekalipun ada keluargamu, ada banyak orang yang pernah singgah dalam luka itu. Keluargamu tidak satupun mengerti kamu. Tidak juga dengan mereka yang selama ini kamu temui dalam bingkai cinta, karena diantara ke-5 orang itu, tak satupun hatinya tulus mencintaimu, cinta monyet semua." Aku diam dan tidak ingin menunjukan garis wajah yang membenarkan apa yang dia kata. Padahal benar adanya. Lagi, lagi, dan lagi, cuma tersenyum sambil menelan dengan perlahan liur-liurku. Aku tidak ingin dia makin merasa dirinya sakti dengan prediksinya yang tepat itu.
Dia menjulurkan tangannya untuk aku jabat. Aku menyambutnya. Tubuhku dingin seraya berkata, "Anda benar, pak. Ini pertama kalinya saya mendengarkan seseorang dengan hati. Anda tahu persis dimana letak sakit itu. Padahal banyak orang yang telah kujelaskan, tetapi tak seorangpun mengerti. Dan Anda, orang asing entah datang dari mana, baru ini bertemu tetapi bisa mengetahui, memetakan, dan menterjemahkan semua itu, lengkap dengan memahami bagaimana rasanya. Anda memaparkannya dengan jelas." Lalu sebagian dari isi hatiku kuutarakan yaitu "bapak benar. Ini pertama kalinya aku mendengarkan seseorang dengan hati. Terus terang, aku tidak mengerti bagaimana bicara dengan menggunakan hati." Jabatan tangan kami selesai. Setelah itu dia sempat meninggalkan percakapan sejenak.
...
Lelaki itu kembali. Dengan santai duduk di kursi yang tadi.
Belakang dia bersikap makin bijak. Bukan sok bijak yang dibuat-buat. Aku tahu itu, aku bisa menilainya. Dia melanjutkan membaca diriku. "Matamu bercerita banyak peristiwa. Seperti layar televisi -guraunya- dan saya bisa merasakan itu. Kantung matamu terbentuk dari rahim yang terluka. Kamu pasti tahu itu." Katanya. "Rahim yang terluka dan rahim yang diluka, 2 peristiwa masa lalu yang menuntutmu untuk bisa tetap bertahan hidup. 1 dari masa lalu yang jaraknya puluhan tahun dan satu lagi masa lalu yang masih dekat. Keduanya kamu timbun dalam-dalam." Lanjutnya. Huh! Sungguh ini membuatku tak berdaya. Aku mengerti betul apa yang dia maksud. Aku tak sanggup menahan airmata yang mulai mataku mulai berkaca-kaca. Lelaki itu pun menjulurkan tangannya untuk yang kedua kalinya. Baiklah, aku sambut. Ini yang paling mengejutkan, sembari salaman dia mengucapkan kalimat: "Mulai saat ini, kamu tidak sendiri lagi. Jadikan saya ayah di dalam hatimu." Hah... Hah... Aku menarik napas pajang dan kuhirup dalam-dalam. Airmataku benar-benar tak bisa disembunyikan. Deras mengalir tak tahu malu. Membuat napasku kian sesak. Sial! Bagaimana dia tahu ini? Kalimat terakhirnya itu adalah point yang selama ini kucari-cari. Rasanya ingin menyandarkan diri pada pelukan seorang ayah dan terlelap. Aku merindukan sosok itu.
Lelaki itu membuka lebar pelukannya dan mengusap-usap kepalaku. "Jika sesuatu terjadi kamu bisa hubungi saya di nomor 081xxxxxx silakan kamu simpan. Karena waktu semakin larut, nanti kamu ditunggu keluargamu. Sekarang segeralah pulang! Apa yang baik dari malam pertemuan ini, ambil hikmahnya. Dan kamu pun boleh saja lupakan saya setelah ini." Itu menjadi kalimat penutup yang keluar dari mulut lelaki asing itu.
Hingga cerita ini kutuang. Aku memutuskan untuk tidak berniat menjumpai orang itu kedua kalinya. Bagiku cukup satu kali. Bukan karena kapok atau takut, justru aku berterima kasih. Keputusanku ini hanyalah satu bentuk sikap untuk menetralkan diri, menyeimbangkan, dan kontrol. Aku ingin tetap jadi diriku yang tidak ingin menggantungkan langkah perjalananku kepada siapapun yang dianggap lebih bisa atau lebih dulu mengetahui. Karena aku khawatir menempatkan orang itu di atas segalanya. Atau dengan kalimat lain, aku enggan membuat dia jadi sakral. Hanya Tuhan (semangat/spirit) yang berhak aku posisikan di atas segalanya.

0 komentar:
Posting Komentar