Senin, 17 Desember 2012

Kau yang difabel atau aku yang difabel?


(Teriak dan menangis sepanjang jalan pulang sambil mengendarai motor. Cuma bisa teriak... teriak... dan bilang "aaaaa..." sambil geregetan, "APA SALAHKU???!!!")

Malam ini, aku mendatangi tempat diskusi. Jujur aku tak tahu topiknya apa. Aku datang ke sana karena beberapa hari sebelumnya membuat janji dg seorang teman. Setelah sampai, temanku sms tak jadi datang. Tapi aku tetap di sana, dan... KEJUTAAAAAN!!! Bukan karena temanya soal difabel. Melainkan narasumber difabel itu, ya... dia sahabatku yang sulit sekali kutemui. Aku putuskan untuk tidak bergegas pulang. Berharap dapat berbincang dengannya nanti. Meski hanya 5-10 menit. Aku tunggu hingga acara usai dengan hati senang.

Selama acara berlangsung, aku benar-benar tidak melewatkan satu kalimatpun yang dia sampaikan. Penasaran! Seperti apa dia saat ini, saat menyampaikan isi pikirannya. Konyol! Seperti dulu, tetap lucu dan dengan gaya bicara khasnya (terburu-buru). Aku anteng, duduk di barisan paling belakang. Namun sayangnya, letak tempatku duduk tepat ke arahnya. Entahlah! Apa dia mengenaliku saat ini, atau tidak!

Lama-lama... Aku yakin dia mulai memperhatikan aku (mengingat posisi bangku yg kududuki persis ke arahnya). Dan pelan-pelan mengenaliku. Tiba-tiba, aku merasa ingin segera pulang saja dan tak mau mencoba untuk muncul di hadapannya lagi, walau hanya sekedar menyapa. Sebab aku tahu, pasti aku akan terluka. Biarlah kuanggap perjumpaan kali ini adalah kejutan dari Tuhan. Dan kurasa cukup.

Namun kuurungkan niatku tadi. Aku malah tak puas dengan kejutan Tuhan ini. Aku memilih diam hingga acara usai. Tahu kenapa? Aku masih menyimpan harap, semoga ada kesempatan buatku bertanya "mengapa dia bersikap menjauh dariku?" Seingatku sejak hari itu, tak ada apapun yang terjadi. Dan seketika dia menghilang. "Katanya sahabat!" Tapi tak bisa aku bicara sedikitpun dengannya, bahkan sekedar berucap "Apakabar?" Baru saja bilang" A.." Dia langsung memotongnya, dan bilang: "bye".

Hemm... Upayaku untuk bertanya ini sudah macam-macam. Mulai dari kirim email pada saat menjelang kepulangannnya dari negeri Paman Sam. Kemudia mencari nomor telponnya, hingga kutahu keberadaannya di kota Malang. Aku rela terbang dari Jakarta langsung ke Malang, lagi-lagi hanya ingin mendapatkan jawaban "mengapa dia menjauh dan menghilang?" Seingatku kami tidak punya masalah. Kalaupun ada, aku ingin dia menjelaskannya. Barangkali aku tak sengaja. Tapi sungguh! Aku ingat betul, kami tak ada masalah.

Aku tak pernah diskriminasi terhadapnya, tak pernah ada di benakku kalau dia adalah seorang difabel. Normal atau tidak normal itu adalah konstruksi saja. Aku sadar betul. Dia hanya berkebutuhan khusus. Toh sama saja! Dalam beberapa konteks aku juga bisa disebut orang yang berkebutuhan khusus. Sama seperti dia. Kira-kira begitu cara aku memperlakukan dia sebagai sahabat.

Malam ini, tidak hanya kuanggap sebagai kejutan tapi kumaknai lebih jauh. Yaitu kesempatan berikutnya untuk bisa berkomunikasi dengannya dan melontarkan pertanyaan. Aku mendekatinya saat usai diskusi. Dia sedang asik berbincang dengan seorang laki-laki di sofa hitam. Aku menjulurkan tangan sambil bilang "apakabar?" Lagi-lagi... Belum kelar aku bilang "apakabar", dia sudah membalas juluran tanganku dengan cepat dan langsung bilang: "BYE!" Haaaaaaaah!!! dalam hati berucap.

Sumpah! Malu! Aku malu sekali dia berlaku seperti itu di hadapan laki-laki tadi, di tengah keramaian pula. Tapi aku coba sekali lagi. Aku tunggu sampai dia selesai ngobrol. Akhirnya aku nekad meminta bantuan seorang laki-laki berbaju merah (mungkin dia kurator di tempat acara itu). Aku bilang ke lelaki berbaju merah itu: " Mas.... tolong nanti usai berbincang dengan mas narasumber itu, aku minta waktu ke dia."  Lelaki berkaos merah itu akhirnya membantuku. Dia panggilkan sahabatku. Tapi sahabatku bergegas jalan menuju mobil Jazz merah. Aku sampai di hadapan sahabatku. Tepat saat dia membuka pintu mobil dan segera duduk. "Aku bisa bicara bentar? sebentar... aja!" permohonanku. "Sori... gak bisa! aku buru-buru. Udah ditunggu tuh." Jawabnya. Sahabatku langsung menutup pintu. Dan mobil itu berlalu meninggalkanku yang masih diam terpaku karena kecewa dan malu.

Aku ingat kata-kata terakhir dimana kami masih sering berkomunikasi, meski jarak jauh. Dengan Skype, tak ada masalah untuk kami. Dua benua yang berjarak tetap bisa bagi kami untuk saling bercakap-cakap, menjalin persahabatan dengan baik. Semua teratasi dengan teknologi.     

Oiya, kata-katanya adalah: "aku gak mungkin suka denga kamu, Vit. Kamu anak S1 yang belum lulus." hem... Entah obrolan macam apa ini! Tiba-tiba kalimat itu meluncur. Sahabatku yang aneh! Belum lagi saat aku berusaha menjumpainya di Malang. Dia bilang: "jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Jangan pernah hadir di kehidupanku lagi. Aku ingin merawat hidupku disini dengan seseorang. Aku sudah punya pacar". Haaaah!!! Makin aneh aku mendengarnya. Aku benar-benar tidak ada masalah jika dia punya pacar. Malah aku ikut senang.

Kadang bertanya sendiri. Memangnya selama ini apa yang ada dipikirannya? Apa dia pikir aku jatuh cinta ke dia? Setahuku semua biasa saja. Lagipula, apa yang aneh. Kalaupun suatu saat aku menyukainya, tentu bukan karena kasihan. Dan bukan peristiwa horor jika manusia jatuh cinta. Bisa di atasi secara dewasa. Soal benci, cinta, suka, itu kan biasa. Hidup itu mengalir saja. Apalagi tentang rasa. Siapa yang tahu?

Harusnya aku yang marah! Namun tidak bisa, aku tahu dia orang yang baik sebetulnya. Aku senang bersahabat dengannya. Dia cerdas meski kadang terlalu arogan dan suka mencela orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Tapi aku tahu, dia tidak benar-benar mencela, hanya sekedar lelucon saja. Sekali lagi, sahabatku itu, orang yang baik sebenarnya. Dia hanya sosok orang yang ekspresif.

Hemmm. Mr. Difabel! Kamu tidak membiarkan aku mengeluarkan satu katapun. Selalu saja bermula dan berakhir dengan bunyi "a..." Aku bisa bicara namun terasa tak bisa mengeluarkan kata-kata. Kalo begini, siapa yang difabel? Dan aku kecewa karena kamu pergi meninggalkan pertanyaan yang tidak pernah dijawab sekalipun. Aaaaaaa.... kamu menjengkelkan! (menangis...) :'(  

11-Juli-2012 "NOTED!"

0 komentar:

Posting Komentar